Palembang, HidayatullahSumsel.com —Dalam lintasan sejarah manusia, ada kecenderungan yang hampir selalu berulang: kita menilai keberhasilan hidup dari apa yang tampak di permukaan. Pernikahan dianggap lengkap jika memiliki pasangan ideal, kebahagiaan keluarga sering diukur dari kehadiran anak, dan kehormatan sosial kerap dilekatkan pada kemapanan ekonomi. Ukuran-ukuran ini pelan-pelan menjadi standar umum, bahkan sering tanpa disadari ikut memengaruhi cara kita menilai diri sendiri dan orang lain.
Namun, jika kita membuka kembali lembaran sejarah tokoh-tokoh perempuan yang dimuliakan dalam Islam, gambaran itu justru berantakan. Ukuran “sempurna” versi manusia ternyata tidak selalu sejalan dengan kemuliaan versi Tuhan.
Sayyidah Maryam binti Imran, misalnya, adalah sosok perempuan suci yang namanya diabadikan dalam Alquran. Ia melahirkan seorang nabi besar tanpa pernah memiliki pasangan. Dalam ukuran sosial zamannya, bahkan hingga kini, kondisi itu bukan hanya “tidak ideal”, tetapi juga sarat stigma. Namun justru dalam kesunyian hidup itulah, Sayyidah Maryam mencapai derajat spiritual yang sangat tinggi. Ia tidak diangkat karena status sosialnya, melainkan karena keteguhan iman dan ketundukannya pada kehendak Ilahi.
Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi Muhammad SAW, hidup tanpa keturunan. Bagi sebagian masyarakat, ketiadaan anak sering dianggap sebagai kekurangan, bahkan kegagalan. Akan tetapi, Ummul Mukminin Aisyah justru menjadi salah satu periwayat hadis terbanyak, guru bagi para sahabat, dan rujukan keilmuan Islam lintas generasi. Jejaknya abadi bukan melalui garis keturunan biologis, melainkan melalui warisan ilmu dan kecerdasan.
Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid menghadirkan kisah lain yang tak kalah menarik. Ia baru bertemu jodoh terbaiknya pada usia 40 tahun, usia yang dalam banyak standar sosial sering dianggap “terlambat”. Namun dari pernikahan itulah lahir rumah tangga yang menjadi fondasi awal dakwah Islam. Ummul Mukminin Khadijah bukan hanya pasangan hidup Nabi, tetapi juga penopang moral, emosional, dan ekonomi di masa-masa paling sulit. Penantian panjang itu ternyata bukan penundaan tanpa makna, melainkan persiapan bagi peran yang jauh lebih besar.
Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW, hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem. Riwayat hidupnya mencatat betapa ia dan Ali bin Abi Thalib sering kali harus menahan lapar. Bahkan untuk sekadar memiliki pembantu pun tidak. Dalam logika dunia modern, kesempitan ekonomi sering dipandang sebagai kegagalan atau ketidakberuntungan. Tetapi justru dari rumah yang sederhana itulah lahir teladan kesabaran, keteguhan, dan kezuhudan yang terus dikenang hingga hari ini.
Sementara itu, Asiyah binti Muzahim hidup dalam kemewahan istana, tetapi memiliki suami yang menjadi simbol kezaliman terbesar dalam sejarah: Fir’aun. Secara lahiriah, Asiyah tampak memiliki segalanya. Namun secara batiniah, ia hidup dalam tekanan iman yang luar biasa. Pilihannya untuk beriman kepada Allah, meski harus berhadapan dengan kekuasaan suaminya sendiri, menunjukkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari lingkungan yang ideal, melainkan dari keberanian mengambil sikap yang benar.
Jika disusun bersama, kisah-kisah ini membentuk satu pola yang menarik. Perempuan-perempuan terbaik sepanjang masa justru hidup dengan takdir yang, di mata manusia, terlihat “tidak sempurna”. Ada yang tanpa pasangan, tanpa anak, tanpa harta, atau bahkan terikat dalam hubungan yang sangat menindas. Namun ketidaksempurnaan itulah yang menjadi ruang tumbuhnya keteguhan iman dan kematangan spiritual.
Pesan ini menjadi relevan di tengah realitas sosial hari ini, ketika tekanan terhadap perempuan, dan manusia pada umumnya, sering kali datang dalam bentuk standar hidup yang seragam. Media sosial mempercepat proses perbandingan. Kebahagiaan seolah harus dipamerkan dalam paket lengkap: karier mapan, keluarga harmonis, ekonomi stabil, dan kehidupan yang tampak “berhasil” di mata publik.
Dalam konteks itu, narasi tentang Maryam, Aisyah, Khadijah, Fatimah, dan Asiyah berfungsi sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh terpenuhinya semua ekspektasi sosial. Ada takdir yang tampak berat, bahkan timpang, tetapi justru menjadi jalan menuju kemuliaan yang lebih tinggi.
Ini bukan ajakan untuk menolak ikhtiar atau meromantisasi penderitaan. Islam tidak pernah memuliakan kesulitan semata-mata karena ia sulit. Yang dimuliakan adalah sikap manusia dalam menghadapinya. Ketika keterbatasan disikapi dengan kesabaran, kejujuran, dan keteguhan iman, di situlah nilai seseorang diangkat.
Pada akhirnya, kisah para perempuan agung ini mengajarkan satu pelajaran mendasar: hidup tidak selalu tentang memenuhi daftar pencapaian, melainkan tentang kesetiaan pada nilai. Takdir boleh jadi tampak tidak sempurna di mata manusia, tetapi di hadapan Tuhan, justru di situlah sering tersembunyi keindahan yang paling dalam.
Dan mungkin, di tengah kegaduhan dunia yang gemar mengukur segalanya dengan angka dan pencitraan, kita memang perlu kembali belajar melihat hidup dengan kacamata yang lebih jernih—seperti yang diteladankan oleh mereka yang dimuliakan sepanjang masa. *|°
