Rakernas Mushida 2026: KH Naspi Arsyad Serukan Transformasi Mindset dan Inovasi Organisasi

JAKARTA, HidayatullahSumsel.com — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) tahun 2026. Dalam sambutannya di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin (6/4/2026) atau bertepatan 17 Syawal 1447 H, ia menyerukan pentingnya perubahan pola pikir (mindset), transformasi kelembagaan, serta kolaborasi strategis.

KH Naspi Arsyad menekankan bahwa konsolidasi jati diri dan transformasi organisasi merupakan langkah krusial agar Mushida dapat menjadi entitas yang manhaji, profesional, dan memiliki pengaruh luas di tengah tantangan zaman.

Acara ini dihadiri oleh berbagai utusan wilayah, termasuk Pengurus Wilayah (PW) Mushida Sumatera Selatan yang mengirimkan tiga perwakilan, yakni Ketua Ibu Nur Syahidah, Sekretaris Puput Astuti, dan Bendahara Hadirah.

Tantangan Global dan Ketahanan Bangsa

Dalam paparannya, KH Naspi Arsyad menyoroti konteks Rakernas yang berlangsung di tengah ketidakpastian global. Konflik berkepanjangan, seperti perang Ukraina-Rusia dan ketegangan di Asia Barat, dinilai memberikan dampak multidimensi, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Kondisi ini menuntut setiap entitas, termasuk organisasi, untuk menyesuaikan kebijakan domestik agar tetap relevan dengan dinamika internasional.

Mengutip hasil dialog pimpinan ormas Islam dengan Kementerian Luar Negeri, KH Naspi Arsyad mengingatkan bahwa eksistensi bangsa di era modern tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan militer.

"Keberlanjutan sebuah negara sangat bergantung pada daya tahan kolektif yang mencakup ketahanan energi, stabilitas persenjataan, hingga kekuatan cadangan devisa," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa di masa krisis, kebutuhan fundamental seperti pangan dan pupuk menjadi hal mutlak yang tidak bisa ditawar, meskipun fasilitas modern seperti listrik atau kendaraan mungkin bisa dikurangi.


Inovasi sebagai Kunci Keberlanjutan Organisasi

Terkait pengelolaan organisasi, KH Naspi Arsyad merujuk pada pandangan analis bahwa kemampuan bertahan dalam persaingan global tidak ditentukan oleh besarnya skala organisasi atau neraca keuangan semata, melainkan oleh kapasitas inovasi.

"Bagi seorang mujahid, inovasi bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan hasil dari motivasi kuat dan proses berpikir sistematis yang melibatkan Allah Ta'ala sebagai sumber inovasi tertinggi," ujarnya.

KH Naspi Arsyad menjelaskan hubungan simbiosis antara inovasi dan transformasi. Inovasi bertindak sebagai katalisator yang memicu kebutuhan untuk berubah, sedangkan transformasi adalah wujud perubahan struktural menyeluruh dari ide-ide baru tersebut.

"Inovasi bagai katalisator, memicu kebutuhan untuk bertransformasi agar tetap kompetitif hingga menjadi unggul dan berpengaruh," tegasnya.

Tiga Pilar untuk Muslimat Hidayatullah

Untuk mewujudkan target tersebut, terdapat tiga pilar utama yang harus dikembangkan oleh Muslimat Hidayatullah:

1.  Perubahan pola pikir (mindset) yang kritis.

2.  Optimalisasi proses melalui eksperimentasi dan iterasi.

3.  Perumusan strategi yang adaptif.

"Pola pikir yang berani mengambil risiko harus diimbangi dengan manajemen perubahan dan budaya organisasi yang terbuka terhadap kolaborasi," katanya.

Sebagai referensi, KH Naspi Arsyad mencontohkan sejarah Hidayatullah yang telah melalui berbagai validasi inovasi, mulai dari format pesantren ala perkampungan Islam di masa awal, hingga transformasi besar pada tahun 2000 dari Organisasi Sosial (Orsos) menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

Menutup sambutannya, KH Naspi Arsyad berharap Rakernas ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran Muslimat Hidayatullah dalam menghadapi kompleksitas tantangan zaman. *|°

Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.