Palembang, HdayatullahSumsel.com - Ada satu kisah yang selalu relevan sepanjang zaman. Kisah tentang sosok yang dahulu dikenal sebagai Azazil—makhluk yang tekun beribadah, yang namanya disebut di langit, yang kedudukannya tinggi di antara para makhluk.
Namun semua itu runtuh dalam satu momen.
Bukan karena kurang amal.
Bukan karena kurang ilmu.
Tetapi karena satu penyakit hati: merasa lebih baik.
Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam عليه السلام, ia berkata:
“Aku lebih baik darinya…”
(QS. Al-A’raf: 12)
Kalimat itu singkat, tetapi cukup untuk menjatuhkan derajatnya dari kemuliaan menuju kehinaan. Sejak saat itu, Azazil dikenal sebagai Iblis—simbol kesombongan yang menolak tunduk kepada kebenaran.
Ketika Kelebihan Menjadi Bencana
Yang sering terlupa, ucapan Iblis bukan sepenuhnya tanpa dasar. Ia memang memiliki kelebihan: diciptakan dari api, memiliki pengalaman ibadah yang panjang, dan kedudukan yang tinggi.
Namun masalahnya bukan pada kelebihan itu.
Masalahnya adalah bagaimana ia memandang kelebihan tersebut.
Ia tidak melihatnya sebagai amanah, tetapi sebagai alasan untuk meninggikan diri. Ia tidak melihat orang lain dengan empati, tetapi dengan perbandingan. Dari situlah kesombongan lahir.
Padahal, dalam pandangan Allah, bukan siapa yang lebih hebat yang dinilai, tetapi siapa yang lebih tunduk. Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Sebaliknya: Jiwa yang Hina di Hadapan Tuhan
Di sisi lain kehidupan, ada manusia-manusia yang mungkin tidak memiliki catatan amal yang gemilang. Mereka pernah jatuh dalam dosa, bergelimang kesalahan, bahkan mungkin dipandang rendah oleh manusia.
Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Iblis:
hati yang merasa hina di hadapan Allah.
Mereka tidak bangga dengan diri mereka.
Mereka tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Justru yang ada adalah penyesalan, harap, dan ketundukan.
Dalam hadits disebutkan:
“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)
Ini bukan pembenaran untuk berbuat dosa, tetapi penegasan bahwa kerendahan hati dan taubat lebih dicintai daripada kesombongan yang merasa suci.
Bahkan Ibn Qayyim al-Jawziyya pernah menyatakan:
“Boleh jadi seseorang melakukan dosa, lalu dosa itu memasukkannya ke dalam surga. Dan boleh jadi seseorang melakukan kebaikan, lalu kebaikan itu memasukkannya ke dalam neraka.”
Mengapa?
Karena dosa itu membuatnya tunduk, menangis, dan kembali kepada Allah.
Sedangkan kebaikan itu justru membuatnya sombong dan merasa cukup.
Tawadhu: Jalan Selamat yang Sering Terlupakan
Dalam kehidupan sehari-hari, penyakit Iblis itu sangat halus. Ia bisa muncul dalam berbagai bentuk:
Merasa lebih alim
Merasa lebih benar
Merasa lebih baik amalnya
Bahkan merasa lebih “pantas masuk surga”
Semua itu adalah bibit kesombongan yang jika dibiarkan, bisa menggerogoti amal tanpa disadari.
Sebaliknya, tawadhu (rendah hati) bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tetapi:
Menyadari bahwa semua kebaikan adalah karunia Allah
Tidak merasa lebih tinggi dari orang lain
Selalu membuka diri untuk belajar dan memperbaiki diri
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Penutup: Di Mana Kita Berdiri?
Kisah Azazil bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi setiap hati.
Bisa jadi kita memiliki ilmu, amal, atau kelebihan tertentu.
Namun jika itu melahirkan rasa lebih baik dari orang lain, maka kita sedang berjalan di jejak yang berbahaya.
Sebaliknya, bisa jadi kita penuh kekurangan dan dosa.
Namun jika hati kita tunduk, merasa hina di hadapan Allah, dan terus kembali kepada-Nya, maka di situlah pintu rahmat terbuka.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah banyaknya amal semata, tetapi bagaimana hati memandang amal tersebut.
Apakah ia melahirkan kesombongan…
atau justru melahirkan ketundukan?