Jakarta, HidayatullahSumsel.com — Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., selaku Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, menegaskan bahwa teknologi saat ini telah bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi bagian integral dari ekosistem kehidupan generasi muda.
"Teknologi kini bukan lagi hanya media pendukung, melainkan telah menjadi environment atau lingkungan hidup bagi anak muda masa kini," ungkap Muzakkir saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar untuk Kampus Madya Hidayatullah se-Indonesia, yang digelar pada 10–14 April 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi penguatan kapasitas kepemimpinan di jaringan pendidikan Hidayatullah, yang saat ini menaungi ekosistem seluas 118 kampus dan 129 yayasan di seluruh Indonesia.
Muzakkir menjelaskan bahwa pesatnya pertumbuhan lembaga dalam beberapa tahun terakhir menuntut peningkatan kualitas tata kelola agar mampu beradaptasi dengan dinamika regulasi dan harapan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
Pelatihan ini dikoordinasikan oleh Hidayatullah Institute, yang berfungsi sebagai corporate university untuk mengembangkan modul pembelajaran dan pelatihan kepemimpinan bagi para pengelola lembaga. Langkah ini diambil merespons hasil asesmen Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah periode 2020–2025, yang mengidentifikasi variasi kualitas pengelolaan dan kapasitas manajerial antardaerah.
Sebanyak 41 peserta yang merupakan unsur pimpinan inti (Ketua, Sekretaris, dan Bendahara/KSB) dari berbagai Kampus Madya Hidayatullah di Indonesia mengikuti program ini. Salah satunya adalah Ust. Solihin, yang hadir sebagai utusan Bendahara dari Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin. Kurikulum pelatihan tingkat dasar ini dirancang untuk menciptakan keseragaman pendekatan manajerial, khususnya dalam perencanaan organisasi yang berpedoman pada Rencana Induk Pengembangan.
Muzakkir juga menekankan relevansi konsep Kepemimpinan Manhaji sebagai fondasi pengembangan kepemimpinan di lingkungan Hidayatullah. Menurutnya, pendekatan ini menyinergikan Sistematika Wahyu sebagai kerangka nilai dengan praktik manajemen kontemporer.
"Manhaji menjadi elemen krusial dalam membentuk kepemimpinan yang mampu mengelola lembaga pendidikan secara efektif, tanpa mengabaikan nilai-nilai ideologis yang menjadi ruh gerakan," jelasnya.
Selain itu, pelatihan ini juga mengintegrasikan materi manajemen sumber daya manusia dan literasi keuangan sebagai upaya memperkuat tata kelola organisasi. Harapannya, kapasitas para pimpinan kampus dalam mengelola institusi pendidikan secara profesional dapat meningkat.
Di samping aspek kepemimpinan, transformasi teknologi juga menjadi bahasan penting. Muzakkir memaparkan bahwa generasi muda kini hidup dalam ekosistem digital yang memengaruhi pola belajar, interaksi, dan akses informasi. Oleh karena itu, para pemimpin pendidikan didorong untuk memahami dinamika ini melalui pendekatan yang adaptif dan responsif.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah Design Thinking, yang berfokus pada penyelesaian masalah berbasis kebutuhan manusia. Metode ini dikombinasikan dengan prinsip Project Management untuk pengelolaan program pendidikan serta penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
Pelatihan juga menghadirkan sesi praktik melalui Outing Class yang membahas tata kelola pesantren modern dan strategi penguatan ekonomi lembaga. Pendekatan ini bertujuan membantu peserta merumuskan solusi sistematis atas berbagai tantangan kelembagaan.
Melalui program ini, Hidayatullah menargetkan terciptanya standar kompetensi kepemimpinan yang lebih konsisten bagi para pimpinan kampus madya dan utama. Diharapkan, inisiatif ini menjadi landasan bagi penguatan tata kelola pendidikan di seluruh jaringan Hidayatullah di Indonesia. *|