Halaqoh Gabungan I: Meneguhkan Jatidiri, Menyemai Transformasi Organisasi

BANYUASIN, HidayatullahSumsel.com — Suasana Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin pada akhir Mei 2026 terasa berbeda. Dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, kader dan pengurus Hidayatullah berkumpul dalam satu majelis yang sarat makna. Mereka datang bukan sekadar menghadiri agenda rutin organisasi, melainkan untuk memperkuat ikatan perjuangan, menyegarkan kembali visi gerakan, serta menata langkah menghadapi tantangan masa depan.

Halaqoh Gabungan Hidayatullah Sumatera Selatan periode 2025–2030 yang digelar pada 30–31 Mei 2026 atau bertepatan dengan 13–14 Dzulhijjah 1447 Hijriah menjadi momentum perdana pada periode kepengurusan yang baru. Kegiatan yang dirancang sebagai agenda triwulanan ini mengusung tema “Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.”

Tema tersebut seolah menjadi penanda arah gerak organisasi di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung. Di satu sisi, Hidayatullah dituntut tetap kokoh menjaga nilai dan identitas perjuangannya. Di sisi lain, organisasi juga ditantang untuk terus bertransformasi agar mampu memberikan pengaruh yang lebih luas bagi umat dan bangsa.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu malam dengan format talkshow halaqoh gabungan yang berlangsung hangat dan interaktif. Acara dipandu oleh Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan, Ustadz Irwan Sambasong, S.Pd.I., S.H., yang tampil sebagai host sekaligus penghubung gagasan dari para narasumber kepada peserta.

Materi pertama disampaikan oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumatera Selatan, Ustadz Yusup Ruswandi, M.Pd. Dalam paparannya, ia mengajak seluruh peserta kembali menengok fondasi gerakan melalui pemahaman mendalam terhadap enam jati diri Hidayatullah.

Menurutnya, jati diri bukan sekadar slogan atau hafalan yang diucapkan dalam forum-forum resmi. Jati diri merupakan ruh yang harus tercermin dalam pola pikir, sikap, dan tindakan setiap kader. Organisasi akan tetap kuat apabila seluruh unsur di dalamnya memiliki kesadaran yang sama tentang nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi perjuangan.

Setelah itu, peserta mendapatkan perspektif yang lebih luas melalui materi yang disampaikan Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, Ustadz Lukman Hakim, M.H.I. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya transformasi organisasi agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya.

Transformasi, menurutnya, bukan berarti meninggalkan warisan perjuangan yang telah dibangun para pendahulu. Sebaliknya, transformasi adalah proses memperkuat kapasitas organisasi agar lebih mandiri, adaptif, dan memiliki pengaruh yang semakin besar di tengah masyarakat. Organisasi yang sehat harus mampu mengelola sumber daya, membangun kemandirian, dan menghadirkan manfaat yang nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, Ustadz Muh. Jufri, anggota DMW Hidayatullah Sumatera Selatan, mengajak peserta menelusuri kembali jejak perjuangan para assabiqunal awwalun lembaga. Kisah-kisah pengorbanan, kesungguhan, dan keteguhan para perintis menjadi pengingat bahwa perkembangan organisasi yang dirasakan saat ini tidak lahir secara instan.

Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa setiap capaian organisasi sesungguhnya berdiri di atas pengorbanan banyak pihak yang telah lebih dahulu menanamkan fondasi perjuangan. Semangat para pendahulu itulah yang perlu terus diwariskan kepada generasi penerus.

Memasuki hari kedua, Ahad (31/5/2026), kegiatan diawali dengan shalat lail berjamaah di Masjid Al-Amin. Dalam suasana dini hari yang tenang, para peserta larut dalam munajat dan refleksi spiritual. Momen ini menjadi pengingat bahwa seluruh aktivitas organisasi pada hakikatnya bertumpu pada kekuatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Usai shalat berjamaah, Ketua DMW Hidayatullah Sumatera Selatan, Ustadz Yusup Ruswandi, kembali memberikan arahan terkait pelaksanaan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH). Ia menjelaskan pentingnya membangun budaya ibadah sunnah sebagai energi ruhiyah yang menopang gerak dakwah dan perjuangan.

Dalam arahannya, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak semata ditentukan oleh kemampuan manajerial atau strategi program. Lebih dari itu, kekuatan spiritual para penggeraknya menjadi faktor penting yang akan menentukan kualitas keberkahan dan keberlangsungan perjuangan.

Karena itu, Gerakan Nawafil Hidayatullah diharapkan tidak hanya menjadi program administratif, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan yang hidup di tengah kader dan keluarga besar Hidayatullah.

Menjelang penutupan, peserta kembali mendapatkan siraman ruhani melalui materi bertema “Pengorbanan dalam Perjuangan.” Materi tersebut mengingatkan bahwa setiap cita-cita besar selalu menuntut pengorbanan. Tidak ada perubahan yang lahir tanpa kesungguhan, dan tidak ada keberhasilan yang dicapai tanpa kesediaan untuk memberi lebih banyak daripada yang diterima.

Pesan itu terasa relevan dengan tantangan dakwah dan pembangunan organisasi saat ini. Ketika dunia bergerak semakin cepat dan kompetisi semakin ketat, pengorbanan dalam bentuk waktu, tenaga, pikiran, hingga materi tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sebuah gerakan.

Setelah dua hari berlangsung, Halaqoh Gabungan akhirnya resmi ditutup pada Ahad, 31 Mei 2026. Namun, berakhirnya acara bukan berarti berakhir pula semangat yang dibangun selama halaqoh berlangsung. Justru dari forum inilah lahir komitmen-komitmen baru untuk memperkuat konsolidasi, memperdalam jati diri, dan mempercepat transformasi organisasi.

Sebagai tindak lanjut, peserta juga menyepakati bahwa pelaksanaan Halaqoh Gabungan berikutnya direncanakan berlangsung di DPD Hidayatullah Musi Banyuasin. Harapannya, forum triwulanan ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi antarkader, tetapi juga menjadi sarana penguatan visi, penyelarasan langkah, dan akselerasi gerakan menuju Hidayatullah yang semakin mandiri dan berpengaruh.

Di tengah berbagai tantangan zaman, semangat yang mengemuka dari Banyuasin pada penghujung Mei itu tampak sederhana namun mendalam: menjaga akar, memperkuat batang, dan menumbuhkan cabang-cabang pengaruh yang memberi manfaat lebih luas bagi umat dan masyarakat. *| Kosim | Foto: Setra Ariansyah


Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.