Palembang, HidayatullahSumsel.com — Manusia dalam perspektif Islam tidak dipahami semata sebagai makhluk biologis, tetapi sebagai makhluk ruhani yang memiliki dimensi batin yang kompleks. Dimensi batin ini dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah nafs (jiwa), yaitu pusat dorongan, kesadaran, kehendak, dan orientasi moral manusia. Al-Qur’an menggambarkan bahwa nafs tidak berada dalam satu kondisi tunggal, melainkan bergerak dalam beberapa tingkatan, yang menunjukkan kualitas spiritual dan kesadaran moral seseorang.
Secara konseptual, terdapat tiga tingkatan utama nafs yang sering dirujuk dalam kajian tasawuf dan pendidikan ruhani, yaitu nafs al-amarah, nafs al-lawwamah, dan nafs al-muthma’innah. Ketiga tingkatan ini bukanlah klasifikasi statis, melainkan fase dinamis yang dapat dialami seseorang sepanjang perjalanan hidupnya.
1. Nafs al-Amarah: Dominasi Dorongan Instingtif
Nafs al-amarah adalah kondisi jiwa yang didominasi oleh dorongan hawa nafsu dan kepentingan instingtif. Pada tingkatan ini, manusia cenderung mengikuti keinginan tanpa pertimbangan nilai, etika, dan tanggung jawab moral. Orientasi hidupnya bersifat reaktif, impulsif, dan berpusat pada pemenuhan kepuasan diri, sebagaimana digambarkan dalam ayat-ayat berikut:
Surat Yūsuf ayat 53:
وَلَا تُصَعِّبْ بِنَفْسِكَ عَلَىٰ مَا فَسَدَتْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ ۙ
“Dan janganlah engkau jadikan alasan atas kedurhakaanmu terhadap diri sendiri, nafsu itu mendorongmu kepada kejahatan.”
Surat Asy-Syam ayat 7-10:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatannya dan takwanya; sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorkannya.”
Surat An-Nūr ayat 30 (ringkasan):
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada orang-orang mukmin: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.”
Dalam realitas sosial, nafs al-amarah tercermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan pribadi, mudah terprovokasi emosi, serta mengabaikan dampak moral dan sosial dari tindakan yang dilakukan. Seseorang pada tingkatan ini tidak selalu berarti berkarakter jahat, tetapi berada dalam kondisi jiwa yang belum terdidik dan belum terkelola secara spiritual.
Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini sebagai jiwa yang “memerintah kepada keburukan”, yang menunjukkan bahwa nafs dapat menjadi pusat kendali perilaku jika tidak dibimbing oleh iman dan akal. Oleh karena itu, pendidikan spiritual dalam Islam tidak bertujuan menghapus nafs, tetapi mengendalikannya agar tidak menjadi penguasa atas akal dan hati.
2. Nafs al-Lawwamah: Kesadaran Moral dan Proses Muhasabah
Tingkatan berikutnya adalah nafs al-lawwamah, yaitu jiwa yang memiliki kesadaran moral dan kemampuan melakukan refleksi diri, seperti disebutkan dalam ayat-ayat berikut:
Surat Al-Qiyāmah ayat 2:
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْْسِ اللَّوَّامَةِ
“Demi jiwa yang amat memarahi dirinya sendiri (lawwāmah).”
Surat Al-Hasyr ayat 18-19:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menyebabkan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
Surat Al-A’lā ayat 14-15:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri (dan memurnikan jiwanya), dan dia menyebut nama Tuhannya, lalu dia shalat.”
Pada fase ini, manusia masih mungkin melakukan kesalahan, namun telah muncul mekanisme batin berupa rasa bersalah, penyesalan, dan dorongan untuk memperbaiki diri.
Nafs al-lawwamah mencerminkan tahap penting dalam pembinaan kepribadian, karena pada titik ini seseorang mulai membangun kompas moral internal. Ia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh dorongan insting, tetapi mulai dipandu oleh nilai, norma, dan pertimbangan etis.
Dalam konteks pendidikan karakter, nafs al-lawwamah dapat dipahami sebagai fase kesadaran diri (self-awareness) dan evaluasi diri (muhasabah). Individu pada tingkatan ini sedang berada dalam proses pembentukan integritas batin, meskipun belum sepenuhnya stabil.
Konflik batin yang muncul pada fase ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan indikator pertumbuhan. Pertarungan antara dorongan dan nilai merupakan bagian dari proses pendewasaan spiritual dan moral manusia.
3. Nafs al-Muthma’innah: Ketenangan dan Kematangan Spiritual
Puncak dari perjalanan batin ini adalah nafs al-muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang, sebagaimana firman Allah dalam ayat-ayat berikut:
Surat Al-Fajr ayat 27-30:
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةًۭ مَّرْضِيَّةًۭ فَٱدْخُلِى فِىْ عِبَادِىْ وَٱدْخُلِىْ جَنَّتِىْ
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai (-Nya). Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Surat At-Taubah ayat 24 (ringkasan):قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ ... أَحَبُّ إِلَىٰ ٱللَّهِ مِنْهَا وَمِنْ رَسُولِهِۦ
“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak... lebih kamu cintai daripada (cinta kepada) Allah, Rasul-Nya...’” (menekankan prioritas ilahi).
Surat Al-Insyirāḥ ayat 5-6:
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ketenangan di sini bukan berarti bebas dari ujian kehidupan, melainkan kondisi batin yang stabil karena adanya keselarasan antara iman, nilai, dan tindakan.
Seseorang pada tingkatan ini tidak mudah terguncang oleh tekanan eksternal, tidak reaktif terhadap provokasi, serta tidak menjadikan ego sebagai pusat orientasi hidup. Kehidupan dijalani berdasarkan prinsip kebenaran, bukan kepentingan sesaat.
Nafs al-muthma’innah mencerminkan kematangan spiritual, di mana manusia telah menjadikan nilai ilahiah sebagai pusat kendali dirinya. Perilaku baik tidak lagi didorong oleh pencitraan sosial atau tekanan eksternal, tetapi oleh kesadaran batin dan keikhlasan.
Dinamika Tiga Tingkatan dalam Kehidupan Manusia
Ketiga tingkatan nafs ini tidak membentuk hierarki permanen, melainkan pola dinamis. Seseorang dapat berpindah dari satu tingkatan ke tingkatan lain sesuai dengan kondisi iman, lingkungan, dan proses pembinaan dirinya, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat-ayat tersebut yang menggambarkan perjalanan jiwa menuju ketenangan.
Islam tidak memandang manusia sebagai makhluk yang dituntut sempurna secara instan, tetapi sebagai makhluk yang dituntut bertumbuh secara berproses. Perjalanan spiritual bukanlah tentang mencapai kesucian mutlak, melainkan tentang konsistensi dalam perbaikan diri.
Dalam perspektif ini, nafs bukanlah musuh, tetapi potensi. Jika dibiarkan liar, ia menjadi sumber kerusakan. Jika dididik, ia menjadi sumber kekuatan moral, spiritual, dan sosial.
Dengan demikian, persoalan utama manusia bukan pada keberadaan nafs, melainkan pada siapa yang mengendalikan nafs tersebut. Ketika nafs menguasai manusia, lahirlah kekacauan batin. Namun ketika manusia mampu mengelola nafsnya, lahirlah ketenangan, kematangan, dan kebijaksanaan hidup.
Inilah makna terdalam dari perjalanan spiritual: bukan menghilangkan dorongan batin, tetapi membimbingnya agar selaras dengan nilai ilahiah dan tujuan kemanusiaan. |°