Rakerwil Hidayatullah Sumsel 2026 Resmi Dibuka di Kampus Madya Banyuasin

Ketua DPP Hidayatullah Bidang Ekonomi, Ust. Drs. Wahyu Rahman, M.M. membuka Rakerwil Hidayatullah Sumsel

Banyuasin, HidayatullahSumsel.com — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sumatera Selatan Tahun 2026 resmi dibuka, Selasa (3/2/2026), di Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin. Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan menjadi momentum penting konsolidasi arah gerakan, penguatan jatidiri, sekaligus pematangan transformasi organisasi menuju Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh.

Pembukaan Rakerwil dilakukan oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Bidang Ekonomi, Ust. Drs. Wahyu Rahman, ME Kehadirannya membawa pesan strategis tentang pentingnya membangun kerja organisasi yang tidak berhenti pada aktivitas semata, tetapi berpijak pada sistem, arah kebijakan, dan visi jangka panjang yang jelas.

Dalam suasana yang tenang, para peserta Rakerwil dari berbagai daerah di Sumatera Selatan mengikuti pembukaan kegiatan ini sebagai awal dari rangkaian proses konsolidasi dan perencanaan wilayah.

Rakerwil tidak lagi diposisikan hanya sebagai forum penyusunan program kerja, tetapi sebagai ruang refleksi kolektif: tentang sejauh mana gerakan telah berjalan, bagaimana sistem organisasi bekerja, dan ke mana arah Hidayatullah akan dibawa.

Dalam sambutannya, Ustadz Wahyu Rahman menekankan pentingnya perencanaan strategis yang terstruktur sebagai fondasi utama kerja organisasi.
“Arahan kebijakan strategis organisasi di-breakdown menjadi program kerja yang nyata, agar seluruh gerak organisasi berjalan sesuai perencanaan. Karena sejatinya, perencanaan yang benar itu sudah mencakup 60 persen dari keberhasilan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerja organisasi tidak cukup ditopang oleh semangat dan niat baik semata, tetapi membutuhkan sistem perencanaan yang rapi, terukur, dan terintegrasi. Program kerja, menurutnya, bukan sekadar daftar kegiatan, melainkan instrumen strategis untuk menjaga agar arah gerakan tetap berada dalam satu rel kebijakan yang sama.

Rakerwil kali ini mengusung tema besar: “Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.” Tema ini menjadi penanda fase baru perjalanan organisasi di tingkat wilayah.
“Tema ini menunjukkan bahwa gerakan kita tidak lagi berjalan sporadis, tetapi terstandar, terukur, dan memiliki arah transformasi yang jelas,” ungkapnya.
Konsolidasi jatidiri dimaknai sebagai proses penguatan nilai, karakter, dan identitas Hidayatullah sebagai ormas dakwah, pendidikan, dan sosial. Sementara transformasi organisasi dipahami sebagai upaya berkelanjutan membangun sistem yang lebih profesional, adaptif, inklusif, dan berdaya saing.

Lebih jauh, Ustadz Wahyu Rahman menegaskan bahwa transformasi tidak cukup dibangun dari aspek struktural, manajerial, dan administratif semata, tetapi harus ditopang oleh sistem spiritual yang kokoh.
“Transformasi hanya akan terbangun dengan baik jika sistem spiritual kita juga terbangun dengan baik. Dari yang awut-awutan menjadi tertata, dari tidak profesional menjadi profesional, dari eksklusif menjadi inklusif, dari tidak disiplin menjadi disiplin. Semua itu agar gerakan ini benar-benar berpengaruh,” tegasnya.
Transformasi, dalam konteks ini, tidak hanya berarti perubahan bentuk organisasi, tetapi perubahan cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkhidmat. Ia mencakup perubahan budaya kerja, etos pelayanan, serta orientasi gerakan yang semakin terbuka dan kolaboratif.

Terkait tema kemandirian, Ustadz Wahyu Rahman juga mengingatkan bahwa makna mandiri tidak boleh direduksi hanya pada aspek finansial.
“Mandiri memang sering diidentikkan dengan kekuatan finansial, tapi bukan hanya itu. Mandiri juga berarti memiliki kekuatan spiritual, kekuatan sistem, dan hidupnya Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) dalam denyut organisasi kita,” jelasnya.
Menurutnya, kemandirian sejati adalah kondisi ketika organisasi memiliki ketahanan dari berbagai sisi: spiritual, ideologis, sistemik, kelembagaan, dan ekonomi. Semua unsur ini harus tumbuh seimbang agar organisasi tidak rapuh dan tidak bergantung pada faktor eksternal.

Ia menutup arahannya dengan penegasan bahwa kemandirian merupakan prasyarat menuju pengaruh yang lebih luas.
“Jika kita ingin menjadi gerakan yang berpengaruh, maka kemandirian itu harus diperjuangkan secara serius. Ia bukan hadiah, tapi hasil dari proses panjang yang konsisten dan terstruktur.”
Rakerwil Hidayatullah Sumsel 2026, dengan demikian, tidak hanya menjadi forum teknis penyusunan program kerja, tetapi ruang ideologis dan strategis untuk menyatukan visi, memperkuat sistem, serta meneguhkan arah perjuangan organisasi. Konsolidasi jati diri, transformasi organisasi, dan agenda kemandirian diposisikan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.

Dari Kampus Madya Banyuasin, Hidayatullah Sumatera Selatan menegaskan langkahnya menuju organisasi yang tidak hanya aktif secara program, tetapi kokoh secara nilai, rapi secara sistem, kuat secara spiritual, dan nyata pengaruhnya di tengah umat dan bangsa. Sebuah pesan kuat pun dikirimkan: Hidayatullah tidak sekadar bergerak, tetapi sedang bertumbuh, bertransformasi, dan menata masa depan gerakannya dengan visi yvisi yg telah ditetapkan yakni Membangun Peradaban Islam. *|°

Tentang penulis

Kosim Abinya Aziyz
Ayah dari 3 anak berdarah Jawa — Sulawesi, non partisan, pembelajar, dan santri.

Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.