Empat Hal yang Menentukan Bahagia dan Sengsara Manusia dalam Perspektif Rasulullah ﷺ

Palembang , HidayatullahSumsel.com - Manusia kerap membayangkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang besar dan jauh. Ia dicari dalam jabatan, harta, atau pengakuan. Padahal, dalam hidup sehari-hari, kebahagiaan sering hadir atau menghilang justru dari hal-hal yang paling dekat: orang yang tidur di samping kita, dinding yang menaungi kepala, suara dari rumah sebelah, dan jalan yang kita tempuh setiap hari.

Rasulullah ﷺ, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Sa‘d bin Abi Waqqash r.a., merumuskan kebahagiaan dan kesengsaraan manusia dengan bahasa yang sangat sederhana, nyaris tanpa hiasan. Namun justru karena kesederhanaannya, pesan itu terasa telanjang dan jujur.

Beliau bersabda: 

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ.

وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: الْجَارُ السَّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السَّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ، وَالْمَرْكَبُ السَّوْءُ.

Empat hal membawa kebahagiaan, dan empat hal menyeret manusia pada kesengsaraan. Tidak lebih. Tidak kurang. Seolah Nabi ﷺ sedang berkata: beginilah hidup bekerja, jika kalian mau melihatnya apa adanya.

Yang pertama disebut adalah pasangan hidup yang saleh. 

Bukan kekayaan, bukan keturunan bangsawan, bukan kecantikan atau ketampanan. Saleh. Sebuah kata yang sederhana, tetapi berat. Ia menuntut kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, dan kemampuan menahan diri. Dalam rumah tangga, pasangan yang tidak saleh bisa menjadikan setiap hari sebagai medan tempur kecil. Kata-kata berubah menjadi senjata, dan rumah kehilangan fungsinya sebagai tempat pulang. Sebaliknya, pasangan yang saleh mungkin tidak menjanjikan hidup tanpa kesulitan, tetapi ia menjamin bahwa kesulitan tidak harus dijalani sendirian.


Kedua, rumah yang lapang

Nabi ﷺ tidak menyebut rumah yang indah atau mahal. Ia menyebut rumah yang luas. Kelapangan adalah soal ruang, tetapi juga soal rasa. Rumah yang sempit bukan hanya soal ukuran, melainkan juga tentang suasana yang menekan. Ada rumah yang luas secara fisik, tetapi penghuninya merasa terkurung. Ada pula rumah yang sederhana, tetapi memberi ketenangan. Dalam kehidupan modern, rumah sering kali berubah menjadi sekadar bangunan tempat orang menaruh lelah, bukan tempat menyembuhkan luka. Hadis ini mengingatkan bahwa manusia membutuhkan ruang, untuk bergerak, berpikir, dan diam.


Ketiga, tetangga yang saleh. 

Ini barangkali bagian yang paling jarang dipikirkan ketika orang berbicara tentang kebahagiaan. Padahal, tetangga adalah manusia yang paling sering bersinggungan dengan hidup kita. Mereka mendengar tangisan anak, pertengkaran kecil, atau kabar duka lebih cepat daripada kerabat jauh. Tetangga yang baik membuat hidup terasa aman, bahkan ketika dunia di luar sedang gaduh. Tetangga yang buruk, sebaliknya, bisa menjadikan setiap pagi dimulai dengan waswas. Rasulullah ﷺ menempatkan tetangga sejajar dengan pasangan dan rumah, seolah ingin menegaskan bahwa kebahagiaan tidak bisa hidup sendirian.


Keempat, kendaraan yang nyaman. 

Ini bukan soal kemewahan, tetapi kelayakan. Kendaraan yang baik memudahkan manusia bergerak, bekerja, dan kembali ke rumah dengan sisa tenaga. Kendaraan yang buruk menguras emosi sebelum hari benar-benar dimulai. Nabi ﷺ tampak memahami bahwa hidup manusia tidak hanya berlangsung di tujuan, tetapi juga di jalan. Dan jalan yang melelahkan, jika dilalui setiap hari, bisa menggerogoti jiwa tanpa disadari.

Lalu Nabi ﷺ menyebutkan kebalikannya: tetangga yang buruk, pasangan yang tidak saleh, rumah yang sempit, dan kendaraan yang menyulitkan. Inilah sumber kesengsaraan. Bukan petaka besar yang datang tiba-tiba, melainkan tekanan kecil yang berulang, hari demi hari. Kesengsaraan semacam ini sering kali tidak tercatat dalam statistik, tetapi terasa nyata dalam dada.

Yang menarik, hadis ini tidak berbicara tentang menjauhi dunia. Tidak ada ajakan untuk hidup sengsara demi kesalehan. Justru sebaliknya, Rasulullah ﷺ mengakui bahwa kualitas hidup duniawi memengaruhi ketenangan batin manusia. Namun semua itu diikat oleh satu kata kunci: saleh. Tanpa akhlak, kenyamanan berubah menjadi beban. Tanpa tanggung jawab, kemudahan berubah menjadi sumber kerusakan.

Dalam dunia hari ini, ketika kebahagiaan sering dipertontonkan sebagai citra dan pencapaian, hadis ini terdengar seperti suara yang datang dari kejauhan, tetapi tetap relevan. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan instan. Ia hanya menawarkan kejujuran: bahwa hidup yang baik dibangun dari relasi yang sehat, ruang yang manusiawi, lingkungan yang bersahabat, dan perjalanan yang tidak menyiksa.

Barangkali, kebahagiaan memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sering tertimbun oleh hal-hal yang kita anggap sepele. Hadis ini mengajak manusia untuk membersihkan tumpukan itu, pelan-pelan, dari yang paling dekat. Dari rumah, dari tetangga, dari pasangan, dan dari jalan yang setiap hari kita lalui. Di sanalah, kebahagiaan dan kesengsaraan saling menunggu giliran. *|°

Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.