Rakernas Hidayatullah 2026, Menjaga Dakwah Tetap Relevan di Tengah Masyarakat yang Berubah

dpwh.sumsel
Pembukaan Rakernas Hidayatullah 2026 yang dihadiri oleh Menteri Transmigrasi RI, Jakarta (12/01)

Jakarta, HidayatullahSumsel.com — Di tengah masyarakat Indonesia yang terus bergerak dan berubah, dakwah tidak bisa berjalan dengan cara lama. Pesan itulah yang mengemuka dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin (23 Rajab 1447 H, 12 Januari 2025).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., dalam sambutan pembukaannya menekankan pentingnya dakwah yang adaptif, membumi, dan hadir nyata menjawab kebutuhan sosial masyarakat. Di hadapan peserta Rakernas dari berbagai daerah, Naspi mengajak seluruh kader untuk terus membaca perubahan zaman tanpa kehilangan arah nilai.

Ia memaparkan beragam program pengabdian Hidayatullah yang selama ini berjalan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, sosial, pangan, kemanusiaan, hingga pembangunan masyarakat. Program-program tersebut, menurutnya, bukan disusun di ruang kosong, melainkan lahir dari perjumpaan langsung dengan realitas umat di lapangan.

KH Naspi Arsyad menilai keragaman program pengkhidmatan tersebut tidak terlepas dari karakter Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman suku, budaya, dan latar sosial menuntut pendekatan dakwah yang tidak seragam, tetapi kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

“Indonesia bukan ruang yang homogen. Karena itu, dakwah dan pelayanan sosial tidak bisa menggunakan satu pola untuk semua,” ujar KH Naspi Arsyad.

Kemajemukan itu, lanjutnya, justru tercermin di tubuh Hidayatullah sendiri. Struktur organisasi Hidayatullah diisi oleh kader dengan latar belakang etnis dan kedaerahan yang beragam, dari Aceh hingga Papua. 

Dengan kondisi tersebut, pola pelayanan yang dikembangkan pun harus lentur, adaptif terhadap perubahan zaman, serta selaras dengan kearifan lokal di masing-masing wilayah.

Dalam konteks itu, Naspi menyebut bahwa Hidayatullah sejak awal memilih jalan dakwah yang tidak semata-mata verbal, tetapi juga berbentuk pengabdian sosial yang nyata. Salah satu contohnya adalah keterlibatan Hidayatullah dalam pendampingan kawasan transmigrasi yang telah berlangsung sejak lama.

Ia mengingatkan bahwa bahkan ketika urusan desa dan transmigrasi masih berada dalam satu kementerian, Hidayatullah telah dipercaya untuk terlibat aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat transmigran. Pendampingan tersebut mencakup sedikitnya sembilan kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), mulai dari Ketapang di Aceh Tengah, Tobadak di Mamuju Tengah, hingga Kobisonta di Maluku Tengah.

Bagi KH Naspi Arsyad, keterlibatan ini bukan sekadar catatan administratif, melainkan bukti kehadiran nyata dakwah di wilayah pinggiran yang kerap luput dari perhatian publik. 

"Kader dan dai Hidayatullah itu berkarya di daerah-daerah transmigrasi,” katanya, merujuk pada kerja sunyi yang jarang tampil di ruang-ruang pemberitaan.

Selain persoalan wilayah dan ekonomi, KH Naspi Arsyad juga menyoroti isu sosial yang lebih mendasar, yakni ketahanan keluarga. Ia menyinggung fenomena meningkatnya jumlah anak yang tumbuh tanpa kehadiran peran ayah, sebuah persoalan yang menurutnya semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius.

KH Naspi Arsyad menyebutkan bahwa lebih dari seperempat anak Indonesia tumbuh tanpa merasakan sentuhan kasih sayang seorang ayah, termasuk di kawasan transmigrasi. Fenomena ini, menurutnya, bukan sekadar statistik, melainkan persoalan sosial yang berdampak panjang terhadap pembentukan karakter dan kesehatan mental generasi mendatang.

“Kita mendapati lebih dari 25 persen anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran figur ayah,” ujarnya.

Karena itu, Hidayatullah menempatkan pendidikan keluarga dan pembinaan anak usia dini sebagai fondasi utama dakwah sosial. Penguatan peran keluarga dipandang sebagai kunci pembangunan manusia Indonesia, bukan sekadar pelengkap program sosial lainnya.

Dalam aspek kesejahteraan, KH Naspi Arsyad juga melaporkan keterlibatan Hidayatullah dalam upaya pemenuhan gizi yang layak bagi anak-anak transmigran dan para guru mengaji. Menurutnya, perhatian terhadap gizi merupakan bagian dari tanggung jawab moral agar generasi tumbuh sehat secara fisik sekaligus kuat secara spiritual.

Ia menambahkan bahwa Hidayatullah telah memperoleh kepercayaan untuk mengelola sejumlah titik dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Amanah tersebut, kata Naspi, harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab agar benar-benar memberi manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat.

“Hidayatullah telah mendapatkan kepercayaan beberapa titik dapur MBG,” katanya.

KH Naspi Arsyad menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi kunci dari seluruh bentuk pengabdian tersebut. Program dakwah dan pelayanan sosial, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan harus berjangka panjang, konsisten, dan berakar kuat di tengah masyarakat.

Rakernas Hidayatullah 2026 sendiri menjadi momentum konsolidasi nasional untuk merumuskan langkah strategis organisasi ke depan. Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berubah, Rakernas ini diharapkan mampu meneguhkan kembali arah gerak Hidayatullah dalam melayani umat dan bangsa.

Menjelang usia pengabdian Hidayatullah yang ke-52 tahun, KH Naspi Arsyad juga menarik refleksi lebih luas tentang perjalanan organisasi. Ia menilai bahwa kiprah Hidayatullah merupakan proses panjang yang tumbuh dari akar masyarakat, dari wilayah-wilayah terluar, hingga perlahan memberi warna di pusat-pusat pengambilan kebijakan nasional.

Dalam konteks itulah, kehadiran Kementerian Transmigrasi dalam pembukaan Rakernas dimaknai sebagai simbol perjumpaan dua ikhtiar pembangunan yang saling melengkapi. Jika negara menata pembangunan dari pusat ke daerah, Hidayatullah, menurut KH Naspi Arsyad, justru bergerak dari daerah menuju pusat.

“Menjelang usia ke-52 tahun, Hidayatullah terus mengabadikan karyanya di seluruh pelosok negeri. Jika Kementerian Transmigrasi menata negara dari Jakarta ke daerah, maka Hidayatullah mengabdi dari daerah ke Jakarta,” ujarnya.

Pembukaan Rakernas Hidayatullah 2026 ini turut dihadiri Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad serta Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Bapak Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang secara resmi membuka kegiatan tersebut.

Di tengah dinamika Indonesia yang terus bergerak, Rakernas ini menjadi pengingat bahwa dakwah, ketika berpijak pada realitas sosial dan dijalankan dengan kesabaran, dapat menjadi bagian dari solusi bersama, bukan sekadar seruan moral dari kejauhan. *|°


Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.