Raker yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan, kepala departemen, serta para penanggung jawab unit pendidikan dan kepesantrenan. Sejak awal, suasana rapat berlangsung serius namun tetap cair, mencerminkan semangat kolektif dalam membangun pesantren secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan menekankan pentingnya kesatuan visi antara seluruh elemen lembaga. Ia mengingatkan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter dan dakwah.
“Rapat kerja ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi momentum untuk menyatukan langkah. Semua unit harus bergerak dalam satu sistem yang terarah,” ujarnya.
Sesi presentasi diawali oleh Departemen Kerumahtanggaan yang memaparkan upaya penataan sarana dan prasarana pesantren, termasuk penguatan sistem pemeliharaan aset dan lingkungan. Penataan ini dinilai penting untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif bagi santri.
Selanjutnya, Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan menjadi salah satu sesi terpanjang dalam raker tersebut. Berbagai unit pendidikan mulai dari RA hingga MA, termasuk program diniyah dan kepengasuhan putra, memaparkan program kerja masing-masing. Fokus utama yang diangkat meliputi penguatan integrasi kurikulum, peningkatan kualitas tahfizh Al-Qur’an, serta pembinaan karakter santri berbasis adab dan kedisiplinan.
Beberapa peserta menyoroti pentingnya kesinambungan antara pendidikan formal dan kehidupan asrama. Selama ini, keduanya kerap berjalan sendiri-sendiri. Dalam raker ini, integrasi tersebut menjadi salah satu perhatian utama agar pembinaan santri berjalan secara menyeluruh.
Di bidang ekonomi, Departemen Ekonomi menyampaikan strategi pengembangan unit usaha pesantren, khususnya pada sektor perkebunan sawit yang saat ini masih dalam tahap awal serta penguatan koperasi dan kantin. Fokus diarahkan pada pembenahan manajemen usaha dan sistem pembukuan agar lebih profesional dan transparan.
Sementara itu, Departemen Sosial dan Dakwah menegaskan peran pesantren dalam menjangkau masyarakat melalui berbagai program, seperti kajian rutin, safari dakwah, serta kegiatan sosial berbasis kepedulian. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat posisi pesantren sebagai pusat dakwah yang aktif di tengah masyarakat.
Departemen Keputrian dan Ummahat juga turut memaparkan program pembinaan santri putri serta pemberdayaan ibu-ibu. Penekanan diberikan pada pembentukan karakter muslimah, penguatan peran keluarga, serta peningkatan kualitas kepengasuhan berbasis nilai-nilai keislaman.
Pada sesi berikutnya, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amin menyampaikan pentingnya optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan. Kegiatan keagamaan yang rutin dan terstruktur dinilai menjadi kunci dalam membangun kehidupan spiritual santri.
Adapun bagian kebendaharaan dan kesekretariatan menyoroti pentingnya tertib administrasi dan pelaporan sebagai dasar pengambilan keputusan yang akurat. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kata kunci dalam pengelolaan lembaga ke depan.
Raker kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung dinamis. Sejumlah peserta memberikan masukan, kritik, serta usulan perbaikan terhadap program yang telah disampaikan. Diskusi ini menghasilkan sejumlah poin penting, terutama terkait penguatan koordinasi antarunit, standarisasi sistem kerja, serta perlunya monitoring dan evaluasi yang lebih konsisten.
Menjelang penutupan, forum merumuskan beberapa rekomendasi strategis yang akan menjadi pedoman kerja selama satu tahun ke depan. Rekomendasi tersebut mencakup peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sistem kepesantrenan, serta pengembangan kemandirian ekonomi pesantren.
Rapat kerja ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh program yang telah dirumuskan dapat dijalankan secara optimal. Lebih dari sekadar forum perencanaan, raker ini menjadi refleksi bersama untuk memperkuat komitmen dalam membangun pesantren yang unggul, berkarakter, dan mandiri.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan diharapkan mampu melangkah lebih terarah dalam mewujudkan visi sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga berakhlak dan siap berkontribusi bagi masyarakat.