Pembinaan dan Bukber di Kampus Madya Banyuasin: Meneguhkan Peran Hamba dan Khalifah serta Kedisiplinan

BANYUASIN, HidayatullahSumsel.com — Suasana Masjid Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin pada Kamis (12/3/2026) sore terasa hangat. Para pengurus yayasan, guru, dan karyawan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan berkumpul dalam sebuah agenda pembinaan yang dirangkai dengan buka puasa bersama.

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin Ramadhan, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai dasar perjuangan lembaga: keikhlasan dalam beribadah kepada Allah sekaligus kesungguhan dalam mengemban amanah sosial sebagai khalifah di bumi.

Hadir menyampaikan tausiyah pembinaan pada kesempatan tersebut, yakni Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumatera Selatan, Ustadz Yusup Ruswandi, M.Pd, serta Pembina Yayasan, Ustadz Lukman Hakim, M.H.I. Keduanya menyoroti aspek penting dalam pembentukan karakter seorang muslim: keseimbangan antara fungsi kehambaan dan tanggung jawab kekhalifahan, serta pentingnya disiplin sebagai fondasi kehidupan.

Manusia: Hamba sekaligus Khalifah

Dalam penyampaiannya, Ustadz Yusup Ruswandi mengingatkan bahwa tujuan penciptaan manusia oleh Allah tidak hanya untuk beribadah dalam makna ritual, tetapi juga untuk menjalankan peran besar sebagai pengelola kehidupan di bumi.

Menurutnya, dua fungsi ini tidak boleh dipisahkan. Kehambaan kepada Allah memberikan arah spiritual bagi manusia, sementara peran sebagai khalifah menuntut tanggung jawab sosial, moral, dan peradaban.

“Seorang muslim tidak cukup hanya menjadi hamba yang rajin beribadah secara personal, tetapi juga harus mampu memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya di hadapan para peserta pembinaan.

Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara kedua peran tersebut merupakan ciri penting dalam ajaran Islam. Ibadah yang kuat akan melahirkan integritas, sementara tanggung jawab kekhalifahan menuntut kerja nyata dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Bagi para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan seperti di lingkungan Hidayatullah, keseimbangan ini menjadi semakin penting. Mereka bukan hanya menjalankan profesi, tetapi juga membawa misi pembinaan generasi.

Pesan tersebut disampaikan dengan nada reflektif, seolah mengajak setiap peserta untuk kembali meninjau niat dan arah pengabdian mereka dalam dunia pendidikan dan dakwah.

Disiplin sebagai Fondasi Karakter

Sementara itu, dalam sesi berikutnya, Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan, Ustadz Lukman Hakim, M.H.I., menyoroti pentingnya disiplin dalam membangun karakter individu maupun lembaga.

Ia menekankan bahwa disiplin bukan sekadar aturan yang memaksa, melainkan kebiasaan yang lahir dari kesadaran diri.

“Disiplin bukan sekadar aturan, tetapi karakter yang dibangun dari keteladanan, kejujuran, dan komitmen terhadap waktu,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak orang menginginkan keberhasilan, tetapi tidak semua bersedia menjalani proses yang menuntut kedisiplinan.

“Kesuksesan tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kebiasaan baik yang dijaga secara konsisten. Dan semua itu dimulai dari satu langkah sederhana: memulai disiplin dari diri sendiri, sekarang juga,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung pentingnya keteladanan dalam dunia pendidikan. Nilai disiplin tidak akan efektif jika hanya disampaikan melalui kata-kata tanpa contoh nyata.

Dalam konteks sekolah atau pesantren, guru memiliki peran yang sangat strategis dalam menanamkan nilai tersebut.

“Tidak ada kedisiplinan tanpa keteladanan. Murid lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar,” katanya.

Ustadz Lukman juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan seorang muslim, shalat menjadi salah satu indikator utama kedisiplinan. Ketepatan waktu, keteraturan, serta komitmen dalam menjalankan shalat merupakan latihan spiritual yang secara langsung membentuk karakter.

Selain itu, ia menyampaikan beberapa prinsip sederhana yang dapat membantu seseorang membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya menjaga komitmen terhadap kesepakatan, menghargai waktu, memulai perubahan dari diri sendiri, mengurangi kebiasaan mencari alasan, serta menjaga kejujuran.

Ramadhan sebagai Momentum Perbaikan

Rangkaian pembinaan tersebut berlangsung dalam suasana yang santai namun penuh perenungan. Menjelang waktu berbuka, para peserta tampak larut dalam diskusi kecil dan refleksi pribadi.

Ramadhan memang sering menjadi ruang bagi banyak orang untuk menata kembali ritme hidup mereka. Dalam bulan yang penuh keberkahan ini, nilai-nilai seperti disiplin, kesabaran, dan keikhlasan terasa lebih mudah dihidupkan.

Bagi lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan, kegiatan pembinaan seperti ini menjadi bagian dari tradisi organisasi dalam menjaga ruh perjuangan.

Pertemuan tidak hanya berfungsi sebagai ajang silaturahim, tetapi juga sebagai sarana memperkuat visi bersama dalam membangun lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh secara spiritual.

Ketika adzan maghrib berkumandang, para peserta pun membatalkan puasa bersama dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Namun yang terasa paling mengenyangkan bukan sekadar makanan, melainkan pesan-pesan pembinaan yang mengingatkan kembali hakikat pengabdian.

Bahwa di balik setiap aktivitas pendidikan, manajemen lembaga, dan pelayanan kepada masyarakat, ada tujuan yang lebih besar: menghadirkan manusia yang seimbang—kuat sebagai hamba Allah, sekaligus bertanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.

Dan dari keseimbangan itulah, peradaban yang lebih baik dapat tumbuh. *| Kosim

Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.