Proses itu dikenal dengan istilah autofagi.
Tulisan ini ingin mengajak kita melihat puasa Ramadan dari dua lensa sekaligus: spiritual dan biologis. Tesisnya sederhana namun kuat: puasa Ramadan bukan hanya ibadah yang menyucikan hati, tetapi juga mekanisme alami yang dapat mengaktifkan autofagi dan mendukung kesehatan seluler.
1. Apa Itu Puasa Ramadan?
Puasa Ramadan adalah ibadah wajib bagi umat Islam, yakni menahan makan, minum, dan berbagai hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh. Durasi puasanya bervariasi, rata-rata 12–18 jam tergantung letak geografis. Di Indonesia, biasanya berkisar 13–14 jam.
Namun Ramadan bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah madrasah ruhani: melatih pengendalian diri, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun empati terhadap kaum dhuafa. Di meja berbuka, kita belajar kebersamaan; di malam hari, kita merasakan kekhusyukan tarawih.
Secara pola, puasa Ramadan sering dibandingkan dengan intermittent fasting (IF) modern. Keduanya sama-sama melibatkan periode tidak makan dalam rentang waktu tertentu. Bedanya, Ramadan memiliki dimensi spiritual yang terstruktur dan kolektif. Selain itu, waktu makan Ramadan terbatas pada malam hari secara konsisten selama 29–30 hari, sementara IF biasanya fleksibel dan individual.
2. Mengenal Autofagi: “Daur Ulang” di Dalam Sel
Istilah autofagi berasal dari bahasa Yunani: auto (diri sendiri) dan phagein (memakan). Secara sederhana, autofagi adalah proses “memakan diri sendiri” di mana sel mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak lagi berfungsi optimal.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Christian de Duve pada tahun 1963. Penelitian mendalam tentang mekanismenya kemudian dikembangkan oleh Yoshinori Ohsumi, yang meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2016 atas kontribusinya dalam memahami gen-gen pengatur autofagi.
Secara biologis, autofagi melibatkan organel bernama lisosom—“kantong enzim” dalam sel yang berfungsi menghancurkan dan mendaur ulang protein rusak, organel tua, bahkan patogen. Proses ini penting untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan sel.
Autofagi dapat dipicu oleh beberapa kondisi: kekurangan nutrisi, stres seluler, olahraga, dan kualitas tidur yang baik. Dengan kata lain, saat tubuh berada dalam kondisi “defisit energi”, ia justru menjadi lebih efisien dan selektif dalam memperbaiki diri.
3. Bagaimana Puasa Ramadan Memicu Autofagi?
Saat kita mulai berpuasa, tubuh menggunakan cadangan glukosa (gula darah) sebagai sumber energi. Setelah beberapa jam—umumnya 12–16 jam—cadangan ini mulai menipis. Tubuh kemudian beralih ke pembakaran lemak dan masuk ke fase ketosis.
Pada fase inilah autofagi mulai meningkat.
Kekurangan asupan nutrisi memicu aktivasi jalur molekuler tertentu yang mendorong ekspresi gen seperti ATG4D dan LAMP2—gen-gen yang terlibat dalam proses autofagi. Artinya, puasa bukan hanya “diam tidak makan”, tetapi proses aktif restrukturisasi seluler.
Durasi puasa Ramadan yang mencapai 14–18 jam di banyak negara dianggap cukup untuk merangsang mekanisme ini. Bahkan beberapa peneliti berpendapat bahwa puasa berulang selama 30 hari memberikan efek adaptif yang lebih stabil dibanding puasa singkat sesekali.
Hasilnya? Sel-sel rusak dibersihkan, protein toksik diurai, dan risiko akumulasi zat berbahaya dapat ditekan. Tubuh seperti mendapat kesempatan melakukan servis berkala.
4. Manfaat Kesehatan: Dari Detoks Hingga Umur Panjang
Autofagi sering disebut sebagai sistem detoks alami tubuh. Ia membantu mengurangi peradangan dan stres oksidatif, dua faktor yang berperan dalam banyak penyakit kronis.
Beberapa penelitian mengaitkan peningkatan autofagi dengan penurunan risiko kanker, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer. Dengan mendaur ulang komponen sel yang rusak, tubuh meminimalkan kesalahan replikasi dan akumulasi protein abnormal.
Autofagi juga berperan dalam pembentukan mitokondria baru, “pembangkit listrik” sel, yang berarti produksi energi menjadi lebih efisien. Efek jangka panjangnya bisa berupa peningkatan vitalitas dan potensi umur panjang.
Secara praktis, banyak orang merasakan penurunan berat badan, peningkatan sensitivitas insulin, dan kejernihan mental selama Ramadan, tentu dengan catatan pola makan saat sahur dan berbuka tetap terkontrol. Kalau berbuka langsung balas dendam satu meja penuh, ya autofaginya bisa mundur teratur.
5. Apa Kata Penelitian?
Sejumlah studi ilmiah mendukung keterkaitan puasa dan autofagi. Penelitian dalam jurnal Cell dan Nature menegaskan bahwa pembatasan kalori dan puasa dapat mengaktifkan jalur molekuler yang berhubungan dengan autofagi.
Sebuah studi yang dipublikasikan di Clinical Nutrition ESPEN (2025) melaporkan adanya peningkatan ekspresi gen terkait autofagi hingga empat kali lipat selama periode Ramadan pada partisipan sehat. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa puasa Ramadan bukan hanya aman, tetapi berpotensi memberi manfaat biologis signifikan.
Namun demikian, penelitian masih terus berkembang. Tidak semua individu mengalami efek yang sama. Faktor usia, kondisi kesehatan, kualitas tidur, serta pola makan saat sahur dan berbuka sangat memengaruhi hasil akhirnya.
Sains memberi kita pemahaman mekanisme; agama memberi kita makna. Keduanya tidak saling meniadakan, justru saling menguatkan.
6. Siapa yang Perlu Berhati-hati?
Puasa Ramadan umumnya aman bagi orang sehat. Namun bagi penderita diabetes, ibu hamil, lansia dengan penyakit kronis, atau individu dengan gangguan metabolik tertentu, konsultasi medis tetap penting.
Untuk memaksimalkan manfaat:
a. Konsumsi sahur bergizi seimbang (protein, serat, lemak sehat).
b. Hindari makan berlebihan saat berbuka.
c. Lakukan olahraga ringan menjelang berbuka atau setelah tarawih.
d. Pastikan asupan cairan cukup di malam hari.
7. Penutup: Ramadan, Harmoni Iman dan Sains
Puasa Ramadan adalah ibadah yang membentuk karakter dan membersihkan jiwa. Namun kini kita juga memahami bahwa di balik praktik spiritual itu, tubuh menjalankan proses biologis luar biasa bernama autofagi, mekanisme alami yang menjaga kesehatan seluler.
Dengan kata lain, Ramadan adalah titik temu antara iman dan sains.
Menjalani puasa dengan niat ibadah tetaplah yang utama. Tetapi mengetahui bahwa tubuh kita juga sedang “berterima kasih” lewat proses perbaikan seluler tentu menjadi bonus yang menggembirakan.
Barangkali inilah salah satu hikmah tersembunyi: ketika kita menahan diri demi Allah, tubuh pun diberi kesempatan untuk memperbarui diri.
Dan siapa sangka, lapar yang kita rasakan siang hari itu, ternyata sedang menghidupkan kembali sel-sel kita. *|°
Referensi:
1. De Duve, C. (1963). The lysosome concept.
2. Ohsumi, Y. (2016). Nobel Lecture: Mechanisms of Autophagy.
3. Mizushima, N., & Komatsu, M. (2011). Autophagy: renovation of cells and tissues. Cell.
4. Longo, V.D., & Mattson, M.P. (2014). Fasting: Molecular mechanisms and clinical applications. Cell Metabolism.
5. Clinical Nutrition ESPEN (2025). Study on gene expression changes during Ramadan fasting.
6. Levine, B., & Kroemer, G. (2019). Biological Functions of Autophagy Genes. Nature Reviews Molecular Cell Biology.