Kolom Murrabi oleh: Ustadz Yusup Ruswandi, M.Pd
Palembang, HidayatullahSumsel.com - Di era media sosial, persepsi publik sering dibentuk bukan oleh kedalaman nilai, tetapi oleh kesan yang paling mencolok. Kita menyaksikan seorang kepala desa berpenampilan nyentrik, bertato, aktif membagikan kegiatan sosialnya, lalu dipuji dan dielu-elukan. Ia dianggap lebih baik dibanding pejabat yang rapi namun tersandung kasus moral.
Di sisi lain, ada perempuan berjilbab yang berperilaku buruk, lalu muncul komentar sinis: “Untuk apa menutup rambut kalau hatinya tidak dijaga?”
Fenomena ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan jebakan psikologis yang serius.
Dalam psikologi sosial dikenal istilah Halo Effect yang diperkenalkan oleh Edward Thorndike. Efek halo adalah kecenderungan seseorang menilai keseluruhan pribadi hanya dari satu kesan yang menonjol. Satu kebaikan membuat kita menganggap seluruh dirinya baik. Satu simbol religius membuat kita menganggap seluruh akhlaknya mulia.
Padahal manusia tidak sesederhana itu.
Satu cahaya kecil tidak otomatis menerangi seluruh ruang.
Selain itu ada pula Contrast Effect atau efek kontras. Ketika seseorang yang tampak “urakan” melakukan kebaikan, dampaknya terasa lebih dramatis karena bertolak belakang dengan ekspektasi. Sebaliknya, ketika seseorang yang berpenampilan religius melakukan keburukan, rasa kecewa menjadi berlipat ganda.
Otak kita menyukai kejutan. Dan kejutan sering kali mengaburkan penilaian.
Dari sinilah muncul narasi populer: “Lebih baik urakan tapi hatinya bersih,” atau “Buat apa jilbab kalau akhlaknya buruk.” Kalimat-kalimat ini terdengar seperti pembelaan terhadap substansi, namun tanpa disadari bisa berubah menjadi pembenaran terhadap kelalaian.
Dalam etika agama maupun norma sosial, penampilan bukan sekadar bungkus. Ia adalah bagian dari komunikasi moral. Cara berpakaian, bersikap, dan menampilkan diri adalah bahasa nilai yang berbicara sebelum kata-kata terucap. Masalahnya bukan memilih penampilan atau akhlak. Masalahnya adalah memisahkan keduanya seolah tidak saling berkaitan.
Lebih berbahaya lagi ketika seseorang menampilkan citra kesalehan atau kebaikan, tetapi perilakunya bejat. Dalam situasi seperti ini, dampaknya tidak hanya bersifat personal.
Pertama, ia merusak citra kebaikan itu sendiri. Ketika figur religius berbuat menyimpang, publik tidak hanya kecewa pada individu tersebut. Mereka bisa kehilangan kepercayaan pada simbol, bahkan pada nilai yang diwakilinya. Satu orang jatuh, dan standar moral ikut tercoreng.
Kedua, ia membuka ruang toleransi terhadap keburukan. Ketika publik berkata, “Yang penting hatinya baik,” atau “Minimal dia peduli rakyat walau tampil seperti itu,” tanpa sadar kita mulai memaklumi sisi gelap lain yang mungkin lebih serius. Efek halo membuat kita menutup mata. Efek kontras membuat kita terpesona. Dan keduanya bisa melumpuhkan daya kritis.
Kita perlu waspada terhadap cara kerja pikiran kita sendiri. Jangan terlalu cepat mengagumi hanya karena satu sisi positif. Jangan terlalu cepat membatalkan nilai hanya karena satu oknum gagal. Jangan pula membenarkan keburukan hanya karena ada sedikit kebaikan.
Idealnya, penampilan dan akhlak berjalan seiring. Penampilan yang baik memperkuat pesan akhlak. Akhlak yang baik memberi makna pada penampilan. Dalam etika agama, lahir dan batin bukan dua wilayah yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu kesatuan.
Masyarakat yang matang bukan yang memuja kontras, melainkan yang menilai secara utuh dan adil. Karena jika kita keliru dalam menimbang, yang rusak bukan hanya reputasi seseorang, tetapi standar moral yang kita wariskan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan siapa yang lebih menarik simpati, melainkan siapa yang lebih konsisten antara yang tampak dan yang tersembunyi. Bukan siapa yang paling mengejutkan, tetapi siapa yang paling istiqomah.
Sebab peradaban tidak dibangun oleh sensasi, melainkan oleh integritas. Dan integritas lahir ketika simbol dan substansi berdamai dalam diri yang sama.