Langsung ke konten utama

Catatan Perjalanan ke Turki: Hari Ketujuh



Puluhan tenaga pendidik di beberapa pondok pesantren melakukan tur pendidikan ke lembaga-lembaga pendidikan di Turki, diprakarsai Depdikdasmen DPP Hidayatullah (17-26/10/2021). Mereka sekaligus menapaktilasi sejarah peradaban Islam di sana. Berikut sebagian kisah perjalanannya, ditulis salah seorang peserta tur, Ust. Lukman Hakim, Ketua DPW Hidayatullah Sumsel untuk hidayatullahsumsel.com, secara berseri.


Hari terakhir di Cappadocia peserta rombongan agak sedikit rileks dan banyak istirahat supaya badan fresh dan saat test PCR swab negatif covid. Alhamdulillah peserta selalu solat berjamaah baik di kamar hotel maupun di musola fasilitas umum. Pada hari ketujuh peserta khususnya bapak bapak sepakat mau solat di masjid dekat hotel. Kita ingin mengenal budaya masyarakat Cappadocia turki khususnya dalam solat jamaah. Peserta datang lebih awal karena hanya berpatokan jadwal solat di aplikasi android tenyata kita sampai masjid, masjid dalam keadaan terkunci terpaksa kita menunggu di luar masjid sekitar 30 menit dengan cuaca yang sangat dingin. Pergi ke masjid penuh perjuangan berat. Pertama suhu mencapai 1°c kedua jalan menuju masjid dipenuhi kerumunan puluhan anjing anjing besar yang keras menggonggong sehingga membuat kita yang jalan menuju masjid ketakutan. Alhamdulillah tidak terjadi apa apa. Memang penduduk disini mayoritas Muslim yang bermadzhab hanafi jadi masalah anjing adalah hal yang biasa. Suasana masih sangat sepi, penduduk masih terlelap tidur. Akhirnya adzan berkumandang melalui pengeras suara terasa senang dalam hati. Tapi ketika mau masuk masjid, masjid masih terkunci. Tidak lama kemudian ada orang tua datang membuka pintu masjid. Setelah kita masuk ternyata yang adzan tadi adalah alarm otomatis. Sholat subuh di masjid diisi teman teman sekitar ada 15 orang dan penduduk setempat 4 orang plus imam dan mereka orang orang tua semua. Kenangan yang tak terlupakan perjuangan menuju masjid untuk solat subuh. Maka kita bersukur di indonesia bisa menikmati solat berjamaah di masjid.

Setelah sarapan peserta bergegas menuju bus untuk kembali ke Istanbul yang jarak tempuhnya 12 jam. Walaupun cukup jauh perjalanan namun terasa tidak melelahkan karena dibawa happy, juga jalannya lurus dan mulus, sopirnya pun kalem maksimum kecepatan 110 km/jam.


Di tengah perjalanan peserta menyempatkan untuk singgah di Danau Garam dalam bahasa Turki dinamakan Tuz Golu. Hamparan luas berkilo-kilo meter putih mengkristal adalah garam yang kualitasnya sama dengan garam himalaya. Kalau di Indonesia garam itu dari lautan tapi di Turki adalah garam di pegunungan sehingga tidak berlaku pepatah populer di indonesia "asam di gunung garam di laut". Disini garam nya adalah garam pegunungan. Setelah menikmati pemandangan danau garam kita melanjutkan perjalanan ke Istanbul. Kami juga sempat melewati kota Ankara ibu kota Turki dimana dimakamkan presiden pertama republik turki Kemal Attaturk namun tidak ada waktu untuk singgah ke makam Kemal Attaturk karena semputnya waktu.



Sampai di Istanbul sekitar pukul 22.00 luar biasa perjalanan hari ini. Langsung seluruh peserta menjalani test pcr swab untuk kepulangan esok hari. Selesai test PCR swab sebagian peserta diundang ke rumah ustadz Taufiq salah seorang dosen Hidayatullah yang sedang kuliah S3 di Turki. Beliau adalah anak menantu ustadz Amin Mahmud orang tua kita. Saking semangatnya sebagian peserta dengan naik taksi ke kediaman ust taufik di sebuah apartemen. Kami disuguhi bakso, nasi tongseng, kue kue ala indonesia. Bahagia sekali mendapat suguhan seperti itu. Karena Hampir tiap hari kita makan menu turki walaupun nasi ala indonesia lauknya juga tetap rasa rasa lidah turki. Jadi malam ini adalah malam terkahir di Turki. Besok udah berkemas kemas menuju bandara. Doanya ya semoga lancar sampai tujuan negara tercinta Indonesia.




*Lukman Hakim

Komentar