Monev DPW Hidayatullah Sumsel Tekankan Tiga Langkah: Tantangan, Identifikasi, dan Solusi

Ketum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc dalam Monev Prokja DPW Hidayatullah Sumsel. Beliau bertindak sebagai Pendamping DPW Hidayatullah Sumsel. 

BANYUASIN, HidayatullahSumsel.com — Monitoring dan Evaluasi (Monev) program kerja bukan sekadar forum untuk melihat program yang sudah atau belum terlaksana. Lebih dari itu, monev menjadi ruang untuk membaca tantangan, mengidentifikasi persoalan, dan menemukan solusi.

Hal tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad, Lc dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program Kerja Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Selatan Semester I di Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin, Ahad (6/9/2026) malam.

Monev diikuti jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sumsel sebagai bagian dari upaya melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kerja sekaligus mempersiapkan langkah organisasi ke depan.

Dalam arahannya, KH Naspi menegaskan bahwa terdapat tiga hal penting yang harus dihasilkan melalui proses monitoring dan evaluasi.

“Dalam monev ada tiga hal: pertama, tantangan; kedua, identifikasi; ketiga, mencari solusi.”

Menurutnya, ketiga hal tersebut merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Tantangan harus dibaca secara objektif, persoalan perlu diidentifikasi secara tepat, kemudian dicarikan solusi yang memungkinkan untuk dilaksanakan.

Dengan pendekatan tersebut, monev tidak berhenti pada laporan tentang terlaksana atau tidak terlaksananya sebuah program. Evaluasi harus mampu menjawab alasan di balik keberhasilan maupun hambatan sebuah program.

Program Kerja Harus Realistis

KH Naspi juga mengingatkan pentingnya kemampuan pengurus dalam menyusun program kerja secara realistis.

Menurut dia, perencanaan program tidak cukup hanya dengan menetapkan target dan daftar kegiatan. Sejak awal, pengurus perlu memiliki kesiapan untuk membaca berbagai kemungkinan yang dapat terjadi ketika program dilaksanakan.

“Salah satu tuntutan, sebelum menyusun program kerja harus disertai kesiapan dan kemampuan mengidentifikasi program kerja yang mungkin tidak berjalan,” katanya.

Kemampuan mengidentifikasi potensi program yang tidak berjalan, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam proses perencanaan. Dengan begitu, organisasi tidak hanya memiliki rencana utama, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi berbagai kendala yang mungkin muncul.

Hal ini menjadi penting mengingat pelaksanaan program di lapangan sangat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, waktu, pendanaan, koordinasi, hingga kondisi eksternal.

Karena itu, program yang baik bukan hanya program yang memiliki target besar, tetapi juga program yang mempertimbangkan kemampuan organisasi untuk melaksanakannya.

Dari Evaluasi Menuju Perbaikan

Monev DPW Hidayatullah Sumsel juga menjadi ruang untuk melihat sejauh mana program kerja yang telah dirancang dapat direalisasikan. Setiap capaian, kendala, maupun program yang belum berjalan menjadi bahan untuk melakukan perbaikan.

Evaluasi diperlukan agar persoalan yang muncul tidak dibiarkan berlarut-larut. Setiap kendala harus dapat diidentifikasi sehingga pengurus dapat menentukan langkah tindak lanjut secara lebih terarah.

Dalam konteks gerakan organisasi, proses tersebut penting untuk memastikan program kerja tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan. Evaluasi juga membantu pengurus menentukan skala prioritas dan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.

Dengan demikian, monev tidak diposisikan sebagai ruang untuk mencari siapa yang salah. Sebaliknya, monev menjadi bagian dari proses belajar organisasi.

Program yang berhasil dapat dilanjutkan dan dikembangkan. Program yang belum optimal dapat diperbaiki. Sementara program yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan dapat dievaluasi kembali berdasarkan kondisi dan kebutuhan organisasi.

Menyiapkan Organisasi Menghadapi Masa Depan

Kemampuan melakukan evaluasi terhadap masa lalu juga harus diikuti kemampuan membaca masa depan.

Menurut KH Naspi, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk belajar dari apa yang telah terjadi sekaligus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan yang akan datang.

Menutup arahannya, KH Naspi Arsyad, Lc mengutip strategi kepemimpinan yang pernah disampaikan Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto. Menurutnya, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan mengevaluasi apa yang telah terjadi sekaligus mengantisipasi apa yang akan terjadi.

“Kemampuan mengevaluasi yang telah terjadi dan kemampuan mengantisipasi apa yang akan terjadi,” ujar KH Naspi, mengutip strategi kepemimpinan Danny Pomanto. *|°

Posting Komentar

Silakan memberikan komentar.
Untuk menghindari adanya spam, mohon maaf, komentar akan kami moderasi terlebih dahulu sebelum ditayangkan.

Terima kasih.