Palembang, HidayatullahSumsel.com - Temuan terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kembali membuka perdebatan lama tentang kapan Islam pertama kali hadir di Indonesia. Jika selama ini narasi populer menempatkan kedatangan Islam pada abad ke-13, temuan arkeologis di kawasan pesisir barat Sumatera justru memperlihatkan jejak interaksi yang jauh lebih awal, yakni sejak abad ke-7 Masehi.[1][2]
Bongal bukan sekadar titik temuan benda-benda kuno. Situs ini menunjukkan bahwa wilayah barat Sumatera telah terhubung dengan jaringan maritim internasional pada masa awal perkembangan Islam. Dari artefak yang ditemukan, para peneliti melihat adanya hubungan dagang, mobilitas manusia, dan pertukaran budaya yang sudah berlangsung sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.[1][2] Temuan tersebut belum otomatis berarti bahwa Islam telah menjadi agama mayoritas atau mapan sebagai institusi sosial di Nusantara pada masa itu, tetapi cukup kuat untuk menegaskan bahwa kontak dengan dunia Islam sudah terjadi jauh lebih awal dari yang lama diajarkan.[2]
Bongal dan Jejak Awal
Dalam pemberitaan resmi dan laporan media, BRIN menyebut bahwa temuan di Bongal berpotensi mengubah peta historiografi Islam di Indonesia.[2] Para peneliti menilai, benda-benda yang ditemukan di situs itu berasal dari rentang abad ke-7 hingga ke-9 Masehi, sehingga menempatkan pesisir Sumatera sebagai salah satu simpul penting jalur pelayaran awal yang menghubungkan Timur Tengah, India, dan Asia Timur.[1][2]
Konteks ini penting. Sejarah kedatangan Islam di Indonesia selama puluhan tahun didominasi oleh teori yang menempatkan masuknya Islam sekitar abad ke-13, terutama melalui kerajaan-kerajaan Islam awal di Sumatera dan Jawa.[2] Namun, bukti dari Bongal memperlihatkan bahwa sebelum terbentuknya kerajaan Islam, sudah ada interaksi yang intens antara penduduk lokal dengan para pedagang dan jaringan peradaban Islam.[1][2] Dengan kata lain, proses islamisasi tampaknya berjalan bertahap, tidak serentak, dan jauh lebih panjang daripada yang sering dibayangkan.
Bukti yang Lebih Tua
Temuan BRIN tidak berdiri sendirian. Sejumlah sumber sejarah sebelumnya juga telah memberi petunjuk bahwa Islam mungkin sudah hadir di Nusantara sejak abad ke-7. Catatan Dinasti Tang misalnya, kerap dikutip sebagai bukti adanya komunitas pedagang Arab Muslim di pesisir barat Sumatera pada 674 M.[3][4] Sumber lain menyebut kawasan Barus atau Fansur sebagai salah satu lokasi awal yang terkait dengan kehadiran Muslim di wilayah ini.[5][6]
Di Barus, sejumlah temuan arkeologis seperti kompleks pemakaman kuno juga sering dijadikan penguat bahwa komunitas Islam telah ada sejak masa sangat awal.[5] Walau setiap sumber memiliki derajat validitas dan penafsiran yang berbeda, benang merahnya sama: Nusantara tidak tiba-tiba mengenal Islam pada abad ke-13, melainkan sudah bersentuhan dengan dunia Islam beberapa abad sebelumnya.[5][6][4]
Temuan Bongal memberi lapisan baru pada narasi itu. Jika bukti tertulis selama ini sering diperdebatkan karena sifatnya yang tidak langsung, maka bukti arkeologis menghadirkan konteks material yang lebih konkret. Artefak, jalur perdagangan, dan jejak aktivitas maritim memberi gambaran bahwa pertemuan antara masyarakat pesisir Sumatera dan dunia Islam bukan sekadar kemungkinan teoritis, melainkan kenyataan historis yang mulai bisa dilacak secara lebih jelas.[1][2]
Menggeser Narasi Lama
Selama ini, buku pelajaran sejarah kerap menyederhanakan proses masuknya Islam ke Indonesia sebagai peristiwa yang terjadi pada abad ke-13, seolah-olah dari sana barulah Islam hadir di kepulauan ini.[2][7] Pandangan seperti itu memang membantu menyusun kronologi sederhana, tetapi juga berisiko menutup kerumitan sejarah yang sesungguhnya. Temuan baru seperti di Bongal memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia awal lebih tua, lebih terbuka, dan lebih terhubung dengan jaringan global daripada yang sering dibayangkan.[1][7]
Karena itu, perdebatan tentang abad ke-7 dan abad ke-13 sebaiknya tidak dipahami sebagai pertentangan hitam-putih. Keduanya bisa sama-sama benar dalam konteks yang berbeda. Abad ke-7 merujuk pada fase awal kontak, ketika pedagang Muslim mulai singgah, berinteraksi, dan meninggalkan jejak di pesisir Sumatera. Sementara abad ke-13 merujuk pada fase ketika Islam mulai muncul sebagai kekuatan sosial-politik yang lebih nyata melalui kerajaan-kerajaan Islam.[2][6] Dengan pendekatan itu, sejarah Islam di Indonesia justru menjadi lebih utuh, bukan lebih kabur.
Makna bagi Historiografi
Bagi dunia sejarah, temuan BRIN di Bongal penting karena memaksa para peneliti meninjau ulang asumsi lama. Historiografi Islam di Indonesia selama ini banyak bertumpu pada naskah, kronik, dan tafsir atas sumber asing. Kini, arkeologi memberi landasan baru untuk membaca ulang masa lalu.[1][2] Dalam arti itu, Bongal bukan hanya situs temuan benda kuno, tetapi juga situs koreksi sejarah.
Pembaruan semacam ini lazim dalam ilmu sejarah. Setiap temuan baru tidak serta-merta menghapus narasi lama, tetapi memperkaya dan memperbaikinya. Jika bukti-bukti di Bongal dan Barus terus diperkuat lewat riset lanjutan, maka kemungkinan besar buku-buku sejarah Indonesia akan semakin menempatkan abad ke-7 sebagai fase penting kedatangan Islam di Nusantara.[1][7][5]
Yang pada akhirnya penting bukan sekadar siapa datang lebih dulu, melainkan bagaimana sebuah peradaban tumbuh melalui pelayaran, perdagangan, dan perjumpaan antarmasyarakat. Dari pesisir Sumatera, sejarah itu kini terlihat lebih tua, lebih kompleks, dan lebih duniawi dari yang selama ini diajarkan.[1][2]
Catatan Kaki:
[1] Periskop, “Situs Bongal Ungkap Jejak Islam Abad ke-7, BRIN Siapkan Riset Besar di Sumatra,” 11 Agustus 2026.
[2] ANTARA English, “Bongal's discovery may reshape Islam history in Indonesia: BRIN,” 11 Agustus 2026.
[3] Detik Hikmah, “Bukti Islam Masuk Indonesia pada Abad ke-7,” 25 November 2023.
[7] Detik Edu, “Buku Sejarah Indonesia Singgung Masuknya Islam Sebelum Abad ke-13,” 14 Desember 2025.
[5] Kompas.com, “Bukti Islam Masuk ke Indonesia pada Abad ke-7,” 25 Maret 2024.
[6] Gramedia Literasi, “Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya,” 13 November 2024.
[4] Intisari Grid, “Sejarah Islam di Indonesia: Sudah Masuk sejak Abad ke-7 Ditunjukkan oleh Berita China Zaman Dinasti Tang,” 4 Mei 2022.
Kutipan:
[1] Situs Bongal Ungkap Jejak Islam Abad ke-7, BRIN Siapkan Riset ... https://periskop.id/kebudayaan/20260812/situs-bongal-ungkap-jejak-islam-abad-ke-7-brin-siapkan-riset-besar-di-sumatra
[2] Bongals discovery may reshape Islam history in Indonesia: BRIN https://en.antaranews.com/amp/news/426765/bongals-discovery-may-reshape-islam-history-in-indonesia-brin
[3] Bukti Islam Masuk Indonesia pada Abad ke-7 - detikcom https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7056814/bukti-islam-masuk-indonesia-pada-abad-ke-7
[4] Sejarah Islam di Indonesia: Sudah Masuk sejak Abad ke-7 Ditunjukkan oleh Berita China Zaman Dinasti Tang https://intisari.grid.id/read/033268444/sejarah-islam-di-indonesia-sudah-masuk-sejak-abad-ke-7-ditunjukkan-oleh-berita-china-zaman-dinasti-tang
[5] Bukti Islam Masuk ke Indonesia pada Abad ke-7 https://www.kompas.com/stori/read/2024/03/25/220000779/bukti-islam-masuk-ke-indonesia-pada-abad-ke-7
[6] Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya https://www.gramedia.com/literasi/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia/
[7] Buku Sejarah Indonesia Singgung Masuknya Islam Sebelum Abad ke-13 https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8259895/buku-sejarah-indonesia-singgung-masuknya-islam-sebelum-abad-ke-13
[8] Penyebaran Islam di Nusantara - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Penyebaran_Islam_di_Nusantara
[9] Sejarah Islam Di Indonesia https://id.scribd.com/presentation/439718440/Sejarah-Islam-Di-Indonesia
[10] Bukan Abad 13, Islam Sudah Masuk Indonesia sejak ... https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/12/21/bukan-abad-13-islam-sudah-masuk-indonesia-sejak-abad-7