| Peserta halaqoh Gabungan Hidayatullah se-Sumsel (Foto: Supri) |
MUSI BANYUASIN, HidayatullahSumsel.com — Para kader Hidayatullah dari berbagai daerah di Sumatera Selatan berkumpul di Pesantren Hidayatullah Musi Banyuasin, Desa Pangkalan Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sabtu-Minggu (12-13/9/2026).
Pertemuan dalam agenda Halaqoh Gabungan Hidayatullah se-Sumsel tersebut menjadi ruang silaturahim, penguatan nilai kekaderan, sekaligus refleksi bersama tentang peran kader dalam kehidupan umat.
Kegiatan diikuti kader Hidayatullah dari berbagai daerah di Sumatera Selatan. DPD Hidayatullah Lahat menjadi satu-satunya daerah yang tidak hadir dalam kegiatan tersebut.
Penyelenggaraan halaqoh di Pesantren Hidayatullah Musi Banyuasin yang berjarak dari 214 km dari Palembang ini juga memiliki konteks tersendiri. Pesantren tersebut berada di Desa Pangkalan Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, wilayah yang telah menjadi salah satu titik pengembangan dakwah Hidayatullah di Musi Banyuasin.
Bagi Hidayatullah, halaqoh bukan sekadar forum berkumpul. Ia menjadi bagian dari proses pembinaan yang menjaga kesinambungan nilai, hubungan antarkader, dan arah gerakan.
Menjaga Kekaderan melalui Halaqoh
Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan, Ust. Irwan Sambasong, dalam pembukaan kegiatan menekankan pentingnya menjaga tradisi yang sederhana tetapi memiliki dampak besar dalam kehidupan berjamaah.
Ia mengingatkan tiga amalan yang menjadi fondasi hubungan antarsesama, yakni menyebarkan salam, memberi makan, dan menyambung silaturahim.
“Mari kita sebarkan salam, beri makan, dan sambung silaturahim. Tiga hal sederhana ini adalah jalan yang mengantarkan kita kepada surga. Karena itu, jangan pernah meremehkan amal-amal sederhana yang menguatkan persaudaraan.”
Pesan tersebut menempatkan silaturahim bukan hanya sebagai aktivitas sosial, tetapi sebagai bagian dari pembentukan karakter kader. Dalam kehidupan organisasi, hubungan antarmanusia menjadi salah satu modal penting untuk menjaga kebersamaan dan keberlanjutan gerakan.
Halaqoh kemudian menjadi ruang untuk merawat hubungan tersebut secara lebih terarah.
Menurut Ustadz Irwan, keberadaan halaqoh memiliki posisi penting dalam proses kekaderan Hidayatullah. Ia menyebut halaqoh sebagai wadah untuk menjaga nilai-nilai kekaderan sekaligus barometer bagi proses pembinaan kader.
“Halaqoh adalah wadah untuk menjaga nilai-nilai kekaderan sekaligus menjadi barometer kekaderan seseorang. Karena itu, seorang kader Hidayatullah tidak boleh memandang halaqoh sebagai sekadar pertemuan rutin. Ketika seseorang tidak mengikuti halaqoh, di situlah ada bagian dari kekaderannya yang cacat dan perlu diperbaiki.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembinaan kader tidak cukup dilakukan melalui kegiatan-kegiatan besar yang bersifat insidental. Justru, proses yang rutin dan berkesinambungan menjadi bagian penting dalam menjaga nilai dan orientasi seorang kader.
Halaqoh menjadi salah satu ruang untuk saling mengingatkan, belajar, mengevaluasi diri, dan menjaga hubungan dengan sesama kader.
Dengan demikian, kegiatan dua hari di Pangkalan Bayat tidak hanya dipandang sebagai agenda organisasi. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga kesinambungan proses pembinaan kader di berbagai daerah.
Belajar Dewasa Menghadapi Perbedaan
Selain berbicara mengenai kekaderan, Ustadz Irwan juga mengingatkan para kader agar memiliki kedewasaan dalam menghadapi perbedaan di tengah umat.
Menurut dia, kehidupan umat Islam tidak selalu berada dalam satu warna. Perbedaan pandangan, latar belakang, metode, maupun pilihan dalam persoalan tertentu merupakan realitas yang harus dihadapi dengan sikap dewasa.
“Orang Hidayatullah harus dewasa dalam menghadapi perbedaan di tengah umat. Kita tidak boleh mudah terpecah hanya karena perbedaan. Karakter orang Hidayatullah adalah menjadi rahmatan lil ‘alamin, menghadirkan kebaikan, kedamaian, dan kemaslahatan bagi lingkungan dan umat.”
Pesan tersebut menempatkan kedewasaan sebagai bagian dari karakter kader. Seorang kader tidak hanya dituntut memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai yang diyakini, tetapi juga kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang dan pandangan beragam.
Sikap tersebut menjadi semakin penting ketika organisasi dan kadernya berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dakwah tidak berlangsung dalam ruang yang homogen. Ia berhadapan dengan keragaman karakter, persoalan sosial, budaya, dan pemikiran.
Karena itu, semangat rahmatan lil ‘alamin yang disampaikan Irwan dapat dipahami sebagai dorongan agar kader menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas.
Kader Hidayatullah diharapkan tidak berhenti pada penguatan internal, tetapi juga mampu membangun hubungan yang baik dengan lingkungan dan umat.
Dari Silaturahim Menuju Konsolidasi
Halaqoh gabungan yang berlangsung selama dua hari tersebut mempertemukan kader dari berbagai daerah dalam satu ruang pembinaan. Pertemuan semacam ini memberi kesempatan bagi kader untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, sekaligus memperkuat komunikasi lintas daerah.
Di tengah aktivitas organisasi yang semakin beragam, pertemuan langsung antarkader tetap memiliki arti penting. Program dan struktur organisasi dapat menjadi sarana kerja, tetapi hubungan personal menjadi salah satu unsur yang menjaga kebersamaan dalam jangka panjang.
Pesantren Hidayatullah Musi Banyuasin di Pangkalan Bayat sendiri merupakan salah satu titik pengembangan Hidayatullah di wilayah Musi Banyuasin. Pengembangan dakwah di kawasan Bayung Lencir telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, dinakhodai oleh Ustadz Nurial dengan dukungan H.Tahmid Siregar sebagai pewakaf.
Kehadiran para kader dari berbagai daerah dalam kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan organisasi tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kota. Daerah menjadi bagian penting dari denyut gerakan dan pengembangan dakwah.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan dalam pembukaan halaqoh mengerucut pada tiga hal: menjaga hubungan antarsesama, merawat proses kekaderan, dan membangun kedewasaan dalam menghadapi perbedaan.
Ketiganya saling berkaitan. Silaturahim menjaga hubungan, halaqoh menjaga proses pembinaan, sedangkan kedewasaan menjaga kader agar mampu hidup dan berdakwah di tengah masyarakat yang beragam.
Dari Pangkalan Bayat, para kader Hidayatullah se-Sumatera Selatan kembali membawa pekerjaan yang tidak selalu terlihat dalam agenda organisasi: menjaga diri, menjaga persaudaraan, dan terus menghadirkan manfaat di tengah umat.
Sebab, bagi sebuah gerakan dakwah, kekuatan tidak hanya diukur dari seberapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa kuat nilai-nilai yang menjaga orang-orang di dalamnya tetap berjalan pada arah yang sama. */kosim