Langsung ke konten utama

CATATAN PERJALANAN KE TURKI: HARI KETIGA

Istana Topkapi

Puluhan tenaga pendidik di beberapa pondok pesantren melakukan tur pendidikan ke lembaga-lembaga pendidikan di Turki, diprakarsai Depdikdasmen DPP Hidayatullah (17-26/10/2021). Mereka sekaligus menapaktilasi sejarah peradaban Islam di sana. Berikut sebagian kisah perjalanannya, ditulis salah seorang peserta tur, Ust. Lukman Hakim, Ketua DPW Hidayatullah Sumsel untuk hidayatullahsumsel.com, secara berseri.

Istanbul - Cuaca pagi yang cerah dan sejuk di kota istanbul membuat peserta rombongan tetap semangat mengawali aktifitas hari ini dengan solat subuh berjamaah di salah satu ruang hotel. Hari ketiga ini diawali dengan kunjungan ke sebuah pabrik kulit yang terkenal dan tertua di turki. Para peserta disuguhi dengan berbagai macam fashion yang terbuat dari bahan kulit asli dengan kualitas tinggi. Menarik memang produknya walaupun harganya lumayan mahal. "Sebetulnya nggak mahal sih  karena antara harga dengan kualitas sepadan" kata salah satu peserta yang tidak mau disebutkan namanya.


Setelah puas dengan menyaksikan produk produk kulit dilanjutkan ke istanbul asia dengan mengunjungi ISAM (Centre for islamic studies) atau markaz al buhuts al islamiyah. Sebuah lembaga kajian keislaman turki yang menjadi pusat penelitian bagi para akademisi khususnya program doktoral. Di lembaga ini banyak melahirkan artikel atau jurnal kajian keislaman dengan berbagai bahasa. Di antaranya bahasa Arab, Inggris dan Turki. Para peserta diberi hadiah berupa jurnal kajian keislaman dengan tiga bahasa. 


Setelah dari ISAM rombongan safari bergerak menuju ke sebuah lembaga wakaf yang bergerak di bidang pendidikan dan kemanusian yaitu Aziz Mahmud Hudayi Vakfi. Peserta mendapat penjelasan tentang lembaga Aziz Mahmud di halaman gedung yang disampaikan langsung oleh mudir Aziz Mahmud. Lembaga ini memiliki cabang di banyak negara. Termasuk di turki sendiri banyak lembaga aziz mahmud memiliki peran besar dalam dunia pendidikan. Di bidang kemanusiaan lembaga ini juga membantu kaum dhuafa dengan memberi makan 7000 orang tiap harinya. Selesai pertemuan para peserta rombongan safar diajak makan siang dengan menu istimewa. "Kami sangat senang dengan kedatangan antum sekalian ketempat kami, insya allah ini menjadi langkah awal dalam persaudaraan sesama muslim" sambutan dari Mudir Aziz Mahmud. 

Masih seputar Istanbul di siang hari rombongan safar beranjak menuju ke museum yang paling terkenal di Turki atau bahkan di dunia yaitu museum istana Topkapi. 

Tentang museum Istana Topkapi perlu diketahui bahwa Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II. Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dan banyak bangunan-bangunan kecil. Pada puncaknya, istana ini dihuni oleh 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara-acara kenegaraan dan hiburan kerajaan. Sekarang menjadi daya tarik wisata dan berisi peninggalan suci penting dari dunia Muslim, termasuk pedang dan jubah Nabi Muhammad dan masih banyak lagi benda benda bersejarah lainnya. 

Kepentingan Istana Topkapi memudar pada akhir abad ke-17 karena Sultan lebih suka menghabiskan waktu di istana baru mereka di Bosporus. Pada tahun 1856, Sultan Abdul Mejid I memindahkan kediamannya ke Istana Dolmabahce.

Masjid Aya Shofia 

Setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921, Istana ini dijadikan museum berdasarkan dekret pemerintah tanggal 3 April 1924. Istana ini merupakan bagian dari "Wilayah Bersejarah Istanbul", yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO.

Masjid Aya Shofia 

Di sore hari dilanjutkan ke masjid bersejarah aya shofia yang letaknya tidak jauh dari museum Istana Topkapi. Peserta menyempatkan diri solat Ashar dan Maghrib di masjid ini. Rombongan safar sangat bersyukur dapat solat di masjid ini. Tentunya selesai solat tak henti hentinya peserta mengagumi bangunan Masjid Aya Shofia dengan mengenang bahwa masjid ini awalnya adalah gereja kemudian menjadi masjid pada masa Muhammad Al Fatih dan kemudian menjadi museum pada masa Mustafa Kemal hingga tahun 2020 berubah kembali menjadi masjid dan para rombongan menikmati untuk solat di masjid ini. Terbayang dulu di sinilah Muhammad Al Fatih pernah solat. Tak terasa berada di masjid yang megah ini waktu beranjak malam saatnya kembali ke hotel untuk istirahat. Semoga kelelahan hari ini dalam napak tilas menjadi saksi mujahadah kita di jalan Allah.

Komentar