Palembang, HidayatullahSumsel.com — Doa kerap hadir sebagai bahasa terakhir manusia. Ia diucapkan ketika logika berhenti memberi jawaban, ketika ikhtiar terasa mentok, atau ketika hati membutuhkan sandaran yang lebih tinggi dari sekadar nalar.
Dalam Islam, doa bukan hanya dianjurkan, tetapi juga diarahkan. Rasulullah ﷺ menyebutkan sejumlah waktu dan keadaan tertentu sebagai saat-saat mustajab, ketika doa lebih dekat untuk dikabulkan. Waktu-waktu ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi batin manusia: sunyi, tunduk, lemah, atau sepenuhnya jujur.
1. Sepertiga Malam Terakhir
> يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
“Tuhan kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir dan berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya.” (HR. al-Bukhari, no. 1145)
Di waktu ini, doa tidak sedang ditonton siapa pun. Ia lahir dari kejujuran, bukan dari kebiasaan. Banyak orang menemukan bahwa doa malam bukan tentang banyaknya kata, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
2. Ketika Hujan Turun
> ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ: الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَتَحْتَ الْمَطَرِ
“Dua doa yang tidak ditolak, doa ketika adzan dan doa ketika hujan turun.” (HR. al-Bukhari, no. 1032)
Ada makna simbolik di sini. Saat hujan turun, alam menerima tanpa menawar. Manusia pun diajak berdoa dengan sikap serupa, tanpa syarat dan tanpa tuntutan berlebihan.
3. Di Antara Adzan dan Iqamah
> الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa tidak tertolak antara adzan dan iqamah.” (HR. Muslim, no. 482)
Ini adalah ruang transisi antara panggilan dan pelaksanaan, saat hati masih lentur untuk diarahkan.
4. Saat Mengalami Kezaliman atau Ditindas
> اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR. an-Nasa’i, no. 2435)
Hadits ini memberi penghiburan bagi yang tertindas sekaligus peringatan keras bagi siapa pun yang merasa aman berbuat sewenang-wenang.
5. Saat Sujud dalam Shalat
> أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim, no. 482)
Sujud adalah simbol kerendahan hati. Tubuh merendah, ego dilipat, dan doa pun mengalir tanpa banyak topeng.
6. Salah Satu Jam di Hari Jumat (Setelah Ashar)
> فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di hari Jumat terdapat satu waktu, siapa pun yang berdoa pada waktu itu akan dikabulkan.” (HR. al-Bukhari, no. 935)
Banyak ulama memahami waktu ini berada setelah Ashar hingga menjelang Maghrib, saat hari perlahan menuju penutupnya.
7. Doa Seorang Musafir
> ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
(HR. at-Tirmidzi, no. 1905)
Dalam perjalanan, manusia sering lebih sadar akan ketergantungannya.
8. Doa Orang yang Berpuasa
> ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ… وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ
(HR. at-Tirmidzi, no. 3598)
Menjelang berbuka, doa kerap hadir tanpa banyak kata, tetapi penuh kesadaran.
9. Doa Sebelum Salam dalam Shalat Wajib
> ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو
(HR. at-Tirmidzi, no. 3499)
Momen ini sering terlewat, padahal ia adalah detik terakhir sebelum kembali ke dunia yang riuh.
Kesembilan waktu ini menunjukkan bahwa doa dalam Islam bukan soal teknik, melainkan soal kesiapan batin. Bukan karena Tuhan membutuhkan waktu tertentu untuk mendengar, melainkan karena manusia sering baru benar-benar siap berbicara pada waktu-waktu tersebut. Dalam keheningan, keterbatasan, dan kerendahan hati, doa menemukan maknanya yang paling utuh. *|°
